BRANDA.CO.ID – Filler hidung dan pasang behel memiliki tujuan, dampak, dan hukum yang berbeda dalam Islam.
Keputusan untuk melakukan filler hidung atau pasang behel ini merupakan pilihan pribadi yang harus dipertimbangkan dengan matang, dengan memperhatikan aspek agama, kesehatan, dan sosial.
Hukum Filler Hidung dalam Islam
Secara umum, filler hidung dalam Islam tergolong haram, dikategorikan sebagai bentuk perubahan ciptaan Allah SWT. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya:
Hadist Rasulullah SAW: “Allah melaknat orang yang merajah wajahnya untuk menyerupai orang lain.” (HR. Muslim)
Hadist Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dan Hawa atas fitrah-Nya. Maka barangsiapa yang mengubahnya, maka sungguh dia telah melakukan perbuatan yang besar dan berdosa.” (HR. Tirmidzi)
Alasan utama diharamkannya filler hidung adalah karena dianggap merubah ciptaan Allah SWT dan menyerupai orang lain. Hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan kesombongan, riya’, dan rasa tidak puas dengan diri sendiri.
Namun, terdapat pengecualian untuk filler hidung yang dilakukan atas alasan medis, seperti untuk memperbaiki cacat lahir atau gangguan kesehatan yang berakibat pada fungsi hidung.
Dalam hal ini, konsultasi dengan dokter dan ulama yang berkompeten sangatlah dianjurkan untuk mendapatkan keputusan yang tepat.
Hukum Pasang Behel dalam Islam
Memasang behel dalam Islam diperbolehkan dan tidak tergolong haram. Behel umumnya digunakan untuk memperbaiki susunan gigi dan meningkatkan kesehatan gigi.
Meskipun tidak haram, perlu diperhatikan beberapa hal saat memasang behel, di antaranya:
1. Niat: Niat utama memasang behel haruslah untuk meningkatkan kesehatan gigi, bukan semata-mata untuk mempercantik diri.
2. Proses: Pastikan proses pemasangan behel dilakukan oleh dokter gigi yang profesional dan berpengalaman untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan.
3. Kebersihan: Menjaga kebersihan gigi dan behel dengan baik untuk mencegah masalah gigi dan mulut.
4. Kesabaran: Proses memperbaiki susunan gigi dengan behel membutuhkan waktu dan kesabaran.
Penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter dan ulama yang berkompeten untuk mendapatkan panduan dan arahan yang tepat.