BRANDA.CO.ID – Di tengah hiruk pikuk Kota Sukabumi, tepatnya di Terminal A K.H. Ahmad Sanusi, tersembunyi sebuah jendela yang menghubungkan kita dengan kekayaan sejarah dan budaya Sunda, yaitu Museum Kipahare.
Museum Kipahare yang diinisiasi oleh Yayasan Ki Pahare, hadir sebagai oase pengetahuan bagi siapa saja yang ingin menelusuri jejak peradaban di Tatar Pasundan, khususnya wilayah Sukabumi.
Nama Museum Kipahare sendiri diambil dari nama lain pohon Paku Jajar atau Suci Domas, sebuah tanaman yang dihormati oleh masyarakat adat Sunda dan dipercaya sebagai lambang Kerajaan Pajajaran, bersanding dengan Kujang.
Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai representasi akar sejarah dan budaya yang ingin diangkat dan dilestarikan oleh museum ini.
Gagasan pendirian museum ini bermula pada tahun 2016, dengan pembentukan sebuah komunitas yang memiliki visi yang sama, yaitu menjaga warisan sejarah Sukabumi.
Setahun kemudian, pada tahun 2017, mimpi tersebut terwujud dengan diresmikannya museum ini. Awalnya, museum ini menempati sebuah bangunan yang merupakan rumah orang tua dari Ketua Yayasan Ki Pahare.
Namun, semangat untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas dan menjadikannya ruang publik yang edukatif mendorong relokasi museum ke lokasi yang lebih strategis, yaitu di area Terminal A Kota Sukabumi yang ramai.
Langkah ini menjadikan Museum Kipahare sebagai museum pertama di Indonesia yang berlokasi di terminal bus, sebuah inovasi yang patut diapresiasi.
Koleksi Museum Kipahare terbilang unik dan beragam.
Selain artefak-artefak peninggalan prasejarah yang ditemukan di kawasan Sukabumi, museum ini juga menyimpan benda-benda bersejarah lainnya yang berasal dari hibah warga lokal maupun hasil ekspedisi komunitas.
Pengunjung dapat menyaksikan berbagai peninggalan yang menceritakan kehidupan masyarakat Sunda di masa lampau, termasuk di antaranya adalah koleksi pusaka dari Kesultanan Banten dan Mataram, serta naskah kuno seperti Carita Parahiyangan yang mengisahkan sejarah tanah Sunda pada akhir abad ke-16.
Selain itu, tempat bersejarah ini juga menyimpan temuan-temuan arkeologis menarik, seperti kepala arca dari zaman klasik yang ditemukan di daerah Gunung Arca, Kecamatan Nyalindung.
Ada pula pedang peninggalan masa kolonial yang diwariskan secara turun-temurun dan diyakini pernah digunakan dalam melawan penjajahan Belanda. Tak ketinggalan, koleksi foto-foto makam tokoh-tokoh penting di sekitar Sukabumi turut menambah khazanah pengetahuan sejarah lokal.

