BRANDA.CO.ID – Tersembunyi di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terdapat sebuah danau alami yang memukau bernama Situ Wangi.
Situ Wangi tak hanya menawarkan keindahan alam yang menenangkan, tetapi juga menyimpan segudang cerita sejarah, mitos, dan kepercayaan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Situ Wangi memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan Kerajaan Galuh Kawali, salah satu kerajaan Sunda kuno yang pernah berjaya di wilayah Ciamis.
Konon, danau ini merupakan peninggalan dari zaman Raja Maharaja Linggabuana, penguasa Kerajaan Galuh Kawali, yang memerintah pada abad ke-14.
Menurut cerita rakyat setempat, nama “Wangi” diberikan karena konon dahulu kala danau ini mengeluarkan aroma harum yang semerbak, terutama saat bunga-bunga teratai bermekaran di permukaannya.
Aroma wangi ini diyakini berasal dari kesucian dan keangkeran tempat tersebut. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa situ ini dahulu merupakan tempat pemandian para putri raja, dan kaum bangsawan Kerajaan Galuh Kawali.
Salah satu aspek yang paling menarik sekaligus menjadi perbincangan tentang tempat ini, adalah adanya pantangan unik bagi perempuan yang sedang haid untuk turun atau berenang di danau.
Kepercayaan ini sangat kuat dipegang oleh masyarakat setempat dan para sesepuh. Mitos tersebut berasal dari keyakinan bahwa situ ini adalah tempat yang sakral, dan memiliki kekuatan spiritual.
Jika seorang perempuan yang sedang haid nekat berenang di danau ini, dipercaya akan terjadi hal-hal buruk, seperti munculnya gangguan gaib, atau bahkan mengotori kesucian danau itu sendiri.
Meskipun secara ilmiah tidak ada penjelasan, masyarakat tetap mematuhi pantangan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi, dan kepercayaan nenek moyang.
Selain pantangan bagi perempuan haid, ada juga beberapa aturan tak tertulis lainnya yang berlaku di Situ Wangi, seperti larangan berkata kotor atau berbuat tidak senonoh di area danau, serta anjuran untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

