BRANDA.CO.ID – Di tengah gempuran modernisasi dan perubahan zaman, Kampung Adat Kuta di Desa Pasirwindu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tetap kokoh memegang teguh tradisi leluhur.
Salah satu aturan Kampung Adat Kuta yang paling mencolok dan dipertahankan secara turun-temurun, adalah larangan membangun rumah bertembok. Di kampung ini, semua rumah harus berbentuk panggung dengan material kayu dan bambu, beratapkan ijuk atau rumbia.
Larangan penggunaan tembok pada bangunan rumah di Kampung Adat Kuta bukanlah tanpa alasan. Masyarakat setempat sangat menghargai dan melestarikan filosofi yang terkandung di baliknya.
Menurut sesepuh adat, penggunaan material alami seperti kayu dan bambu adalah bentuk penghormatan terhadap alam.
Mereka percaya bahwa manusia harus hidup selaras dengan lingkungan, dan pembangunan rumah yang memanfaatkan hasil bumi secara berlebihan atau merusak alam akan membawa dampak negatif.
Selain itu, rumah panggung tradisional juga dianggap lebih ramah lingkungan dan tahan gempa. Struktur bangunan yang fleksibel dari kayu dan bambu dipercaya dapat meredam guncangan gempa bumi, berbeda dengan bangunan tembok yang cenderung lebih kaku dan rentan roboh.
Aspek sirkulasi udara alami juga menjadi pertimbangan, membuat rumah terasa sejuk tanpa perlu pendingin ruangan.
Masyarakat kampung ini dikenal sangat memegang teguh adat istiadat dan nilai-nilai luhur, yang diwariskan nenek moyang. Selain larangan rumah bertembok, ada banyak aturan adat lain yang juga ditaati, seperti larangan menggunakan alas kaki di area tertentu, larangan berbicara kasar, hingga kewajiban menjaga kebersihan lingkungan.
Mereka meyakini bahwa dengan mematuhi aturan-aturan ini, kehidupan akan berjalan harmonis dan terjaga dari segala marabahaya.
Pelestarian tradisi ini juga berfungsi sebagai benteng budaya yang menjaga identitas, dan kekhasan Kampung Adat Kuta dari pengaruh luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai mereka.
Pemerintah daerah dan berbagai pihak juga turut mendukung upaya pelestarian Kampung Adat Kuta, sebagai salah satu warisan budaya yang berharga.
Kampung ini sering menjadi tujuan studi banding dan wisata budaya, bagi mereka yang ingin mempelajari kearifan lokal dan kehidupan tradisional.

