BRANDA.CO.ID – Siapa tak kenal Kecap Bango? Rasanya, hampir setiap dapur di Indonesia punya botol atau saset berwarna hitam ini. Kekhasan rasa manis gurihnya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidangan Nusantara.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa kecap bango ini bermula dari sebuah industri rumah tangga sederhana, jauh sebelum menjadi raksasa seperti sekarang.
Sejarah Kecap Bango bermula pada tahun 1928 di daerah Betawi. Tjoa Pit Het, seorang pengusaha Tionghoa, yang memulai usaha pembuatan kecap dengan resep tradisional keluarga.
Nama “Bango” sendiri dipilih karena melambangkan harapan agar usaha kecapnya bisa terbang tinggi dan dikenal luas, seperti burung bangau. Pada masa-masa awal, produksi kecap ini dilakukan secara manual dan tradisional.
Kedelai hitam pilihan direbus, difermentasi, kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Proses penjemuran ini menjadi kunci untuk menghasilkan cita rasa dan aroma yang khas.
Distribusinya pun masih sangat terbatas, hanya dari rumah ke rumah atau warung-warung kecil di sekitar Betawi. Tjoa Pit Het dan keluarganya sendiri yang memasarkan produk mereka, membangun hubungan langsung dengan para pelanggan.
Seiring berjalannya waktu, reputasi kecap ini mulai menyebar dari mulut ke mulut. Cita rasa yang konsisten dan kualitas bahan baku yang terjamin membuat permintaan terus meningkat.
Meskipun sederhana, prinsip menjaga kualitas menjadi pondasi utama yang dipegang teguh oleh keluarga Tjoa Pit Het. Puncak perubahan besar dalam sejarah Kecap Bango terjadi pada tahun 1992, ketika PT Unilever Indonesia Tbk mengakuisisi merek Kecap Bango.
Akuisisi ini menjadi titik balik yang signifikan. Dengan dukungan jaringan distribusi dan strategi pemasaran yang kuat dari Unilever, kecap ini berhasil menjangkau pasar yang jauh lebih luas, dari Sabang sampai Merauke.
Pabrik modern dibangun, proses produksi ditingkatkan, namun Unilever berkomitmen untuk tetap mempertahankan resep asli, dan kualitas tradisional yang telah menjadi ciri khasnya selama puluhan tahun.
Hingga kini, Kecap Bango terus berinovasi tanpa melupakan akarnya. Berbagai varian produk telah diluncurkan, namun esensi rasa klasik tetap terjaga.

