Kenapa Orang Sunda Sering Pakai Kata ‘Teh’, ‘Atuh’, dan ‘Mah’ Ketika Berbicara?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Jika Anda pernah berinteraksi dengan orang Sunda, pasti tidak asing lagi dengan keberadaan sisipan kata seperti ‘Teh’, ‘Atuh’, dan ‘Mah’ dalam percakapan sehari-hari mereka.

Kata-kata ini seringkali membuat mereka yang bukan orang Sunda sedikit bingung, karena seolah tidak memiliki arti harfiah yang jelas. Namun nyatanya, kata-kata ini justru menjadi “bumbu” penting yang memperkaya makna, menegaskan maksud, bahkan menunjukkan emosi penuturnya.

Kata ‘Teh’ yang sering disebut oleh orang Sunda merupakan partikel penegas, meskipun kadang tidak mengubah arti kalimat secara drastis.

Ibaratnya, ‘teh’ dalam bahasa Indonesia seperti ‘sih’, namun dengan penekanan yang lebih halus. Misalnya, ketika seseorang bertanya “naon sih”, maka dalam bahasa Indonesia artinya “apa sih?”

Sedangkan partikel ‘atuh’ memiliki makna yang lebih fleksibel, dan sangat tergantung pada konteks kalimat serta intonasi. Umumnya, ‘atuh’ bisa berarti ‘dong’, ‘kan’, atau ‘saja’.

Misalnya, jika teman mengajak pergi dan kita setuju, kita bisa bilang, “Hayu atuh!” yang berarti “Ayo dong!”. ‘Atuh’ juga bisa menunjukkan saran atau anjuran yang lembut, seperti “Makan atuh biar sehat,” yang berarti “Makan dong biar sehat.”

Nah sementara kata ‘mah’, ia juga merupakan penegas namun seringkali digunakan untuk membandingkan, mengkontraskan, atau memberi penekanan pada subjek atau objek tertentu dalam kalimat.

Mirip dengan ‘sih’ atau ‘kalau’ dalam bahasa Indonesia. Misalnya, “Ari saya mah di rumah,” yang berarti “Kalau saya sih di rumah,” menekankan posisi diri pembicara.

‘Mah’ juga bisa menunjukkan pilihan atau preferensi. “Saya mah lebih suka kopi,” berarti “Saya sih lebih suka kopi,” menyoroti pilihan pribadi.

Selain itu, ‘mah’ seringkali digunakan untuk menandai informasi yang sudah diketahui atau dianggap tidak penting, atau bahkan untuk menunjukkan ketidakpedulian. Misalnya, “Itu mah sudah biasa,” yang berarti “Itu sih sudah biasa.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist