BRANDA.CO.ID – Ritual Ma’nene adalah sebuah tradisi unik dan sakral yang dilakukan oleh masyarakat suku Toraja di Sulawesi Selatan. Tradisi ini melibatkan pembersihan jenazah leluhur yang telah berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus tahun, hingga menjadi mumi.
Bagi suku Toraja, Ritual Ma’nene adalah bentuk penghormatan mendalam kepada para leluhur yang telah meninggal dunia.
Menurut Marten Paladan, seorang pemangku adat Toraja, ritual Ma’nene adalah wujud perhatian kepada leluhur. Masyarakat Toraja percaya bahwa jika mereka tidak menghormati leluhur, kehidupan mereka tidak akan damai.
Oleh karena itu, melalui proses mengganti pakaian dan membersihkan mumi, mereka menunjukkan bakti dan kasih sayang yang tak terputus.
Ritual ini tidak hanya terbatas pada pembersihan mumi. Ada beberapa rangkaian ritual lain yang menyertainya:
– Pembukaan Liang Kubur (Pa’tene): Ritual ini menandai dimulainya Ma’nene. Liang kuburan batu yang berisi mumi-mumi leluhur dari satu rumpun keluarga akan dibuka.
– Pengorbanan Hewan: Rumpun keluarga akan mengurbankan hewan seperti babi dan kerbau. Jumlah babi disesuaikan dengan jumlah mumi, sementara jumlah kerbau berdasarkan jumlah kelompok keluarga. Pengorbanan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan agar sang arwah dapat mencapai Puya (surga) menurut kepercayaan Aluk Todolo.
– Penjemuran Mumi: Setelah peti mumi dibuka, jenazah akan dijemur selama 3 hari hingga 1 pekan, tergantung kesepakatan keluarga.
– Pembersihan dan Penggantian Pakaian: Mumi akan dibersihkan menggunakan kuas atau kain, alas peti diganti, dan pakaian mumi diganti dengan yang baru.
– Ma’sisemba: Ritual ini diakhiri dengan acara perkelahian kaki yang disebut Ma’sisemba.
Meskipun secara tradisional dilakukan setahun sekali, karena biaya yang besar dan letak anggota keluarga yang tersebar, hasil musyawarah adat (Kombongan Kalua) menyepakati bahwa ritual Ma’nene kini dapat dilaksanakan tiga tahun sekali.

