Mengungkap Keunikan Waruga, Tradisi Pemakaman Kuno Suku Minahasa

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Tradisi pemakaman Waruga dari Suku Minahasa di Sulawesi Utara, bukan sekadar makam biasa, melainkan sarkofagus batu berukir yang menyimpan sejarah, kepercayaan, dan seni dari leluhur Minahasa.

Istilah “Waruga” berasal dari gabungan kata “Waru” yang berarti rumah dan “Ruga” yang berarti badan. Secara harfiah, hal ini dapat diartikan sebagai “rumah untuk jasad yang akan kembali ke surga.”

Bentuk Waruga sangatlah khas, terdiri dari dua bagian utama, yaitu sebuah balok batu berongga sebagai wadah jasad, dan penutup berbentuk prisma segitiga yang menyerupai atap rumah.

Keunikan lain dari makam ini terletak pada posisi jasad yang dimakamkan di dalamnya. Jenazah diletakkan dalam posisi meringkuk seperti bayi dalam kandungan, dengan tumit menyentuh bokong dan mulut seolah mencium lutut.

Posisi ini merefleksikan keyakinan Suku Minahasa, bahwa manusia meninggal dalam posisi yang sama seperti saat mereka dilahirkan, menggambarkan siklus kehidupan yang kembali ke asal.

Selain itu, jasad dalam Waruga selalu dihadapkan ke utara, sebuah arah yang diyakini sebagai asal-usul nenek moyang Suku Minahasa.

Tradisi pemakaman Waruga diperkirakan telah ada sejak abad ke-9. Selama berabad-abad, Waruga menjadi bagian integral dari praktik pemakaman masyarakat Minahasa. Namun, tradisi ini akhirnya dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1860.

Larangan ini diberlakukan setelah terjadinya wabah penyakit seperti pes, tifus, dan kolera, di mana pemerintah khawatir penyakit-penyakit tersebut dapat menyebar melalui celah-celah pada peti Waruga yang tidak tertutup rapat.

Pada masa lampau, tidak semua orang dapat dimakamkan di dalam Waruga. Tradisi ini umumnya diperuntukkan bagi individu-individu dengan status sosial tinggi, dalam masyarakat Minahasa.

Menariknya, pemakaman ini juga berfungsi sebagai media untuk menceritakan kisah hidup, atau profesi orang yang dimakamkan. Ukiran-ukiran yang menghiasi penutupnya seringkali menggambarkan pekerjaan atau peran sosial mendiang.

Sebagai contoh, motif seorang wanita melahirkan menandakan bahwa mendiang adalah seorang bidan, dan motif binatang menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemburu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist