BRANDA.CO.ID – Setiap negara memiliki cara uniknya sendiri untuk merayakan datangnya Tahun Baru, dan Denmark tidak terkecuali. Di tengah gemerlap kembang api dan sorak-sorai perayaan, budaya Denmark miliki tradisi melempar piring.
Dikenal sebagai “Tivolis”, tradisi melempar piring ini lebih dari sekadar tindakan yang meriah, ia adalah simbol persahabatan, keberuntungan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Tradisi melempar piring berakar dari kebiasaan lama bangsa Denmark, yang gemar mengoleksi piring-piring cantik untuk dekorasi rumah. Menjelang malam pergantian tahun, piring-piring yang tidak terpakai dikumpulkan dan kemudian dilemparkan ke rumah-rumah keluarga, teman, dan tetangga.
Dalam kepercayaan masyarakat Denmark, semakin banyak piring yang dilemparkan ke sebuah rumah, semakin besar keberuntungan yang akan menyertai penghuninya di tahun yang akan datang.
Ini bukan sekadar tindakan acak, melainkan sebuah gestur penuh kebaikan, di mana setiap lemparan membawa doa dan harapan baik bagi orang-orang terdekat.
Di balik kemeriahan dan suara pecahan piring, tradisi ini menyimpan makna filosofis yang mendalam. Masyarakat Denmark percaya bahwa dengan melempar piring, mereka melepaskan segala negativitas dan beban dari tahun yang telah berlalu.
Piring-piring yang pecah melambangkan tahun yang telah usai, dengan segala suka dan dukanya. Suara dentingan dan pecahan piring diyakini mampu mengusir roh jahat dan kesialan, membuka jalan bagi tahun baru yang penuh harapan dan kebaikan.
Ini adalah ritual pembersihan simbolis, yang memungkinkan mereka memulai lembaran baru dengan energi positif dan pikiran yang jernih.
Lebih dari itu, tradisi ini juga melambangkan kekuatan persatuan dan semangat komunitas. Perayaan Tahun Baru di Denmark menjadi momen di mana masyarakat berkumpul dengan sukacita, berbagi kebahagiaan, dan mempererat ikatan.
Tradisi melempar piring biasanya dilakukan pada malam Tahun Baru setelah makan malam. Orang-orang berkumpul di jalanan, menciptakan suasana penuh tawa dan kebersamaan.
Penting untuk dicatat bahwa tradisi ini tidak dilakukan sembarangan; mereka memilih tetangga dan teman yang dikenal baik dan disukai, serta melempar piring dengan hati-hati untuk menghindari cedera atau kerusakan yang tidak diinginkan.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun melibatkan “pelemparan”, esensi utamanya adalah kehati-hatian, rasa hormat, dan niat baik.
Menariknya, tradisi melempar piring ini tidak hanya ditemukan di Denmark. Beberapa negara Skandinavia lainnya, seperti Swedia dan Norwegia, juga memiliki praktik serupa, menunjukkan adanya benang merah budaya di wilayah tersebut.
Hal ini memperkuat gagasan bahwa tradisi ini adalah bagian dari warisan budaya Nordik yang kaya, di mana simbolisme dan kebersamaan menjadi elemen penting dalam merayakan momen-momen istimewa.

