Benarkah Rujak Cingur Jadi Makanan Favorit Firaun? Ini Faktanya

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Rujak cingur, kuliner khas Surabaya yang kaya rasa, selalu berhasil menggoda lidah para penikmatnya. Kombinasi sayuran, buah-buahan, tahu, tempe, lontong, dan tentu saja, cingur yang disiram bumbu petis kental, menciptakan perpaduan rasa manis, pedas, dan gurih yang tiada duanya.

Namun, belakangan ini, sebuah narasi unik sempat beredar di media sosial, mengklaim bahwa rujak cingur ternyata memiliki sejarah panjang hingga ke peradaban Mesir kuno. Bahkan, disebut-sebut sebagai hidangan favorit Raja Firaun. Benarkah demikian?

Hikayat yang viral tersebut menyebutkan bahwa rujak cingur bermula dari Mesir. Konon, hidangan ini pertama kali ditemukan oleh seorang bernama Abdul Rozak, yang kemudian mempersembahkannya kepada Raja Firaun Hanyokrowati pada saat ulang tahunnya.

Saking sukanya, Firaun pun menjadikan hidangan inisebagai makanan kesukaannya. Narasi ini sontak membuat banyak orang terkejut dan penasaran, mungkinkah kuliner Nusantara ini memiliki akar sejarah yang begitu jauh dan megah?

Namun, tanggapan berbeda datang dari pemerhati sejarah dan budaya Surabaya, Kuncarsono Prasetyo. Menurut Kuncarsono, klaim bahwa rumor tersebut hanyalah sebuah “guyonan” atau lelucon yang beredar di masyarakat.

Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, belum ada riset atau bukti sejarah valid yang mendukung narasi tersebut. Kuncarsono berpendapat bahwa kisah ini lebih cenderung sebagai bumbu penyedap cerita rakyat yang diturunkan secara lisan, tanpa dasar ilmiah yang kuat.

Meskipun demikian, Kuncarsono tidak menampik bahwa hidangan sejenis rujak memang ditemukan di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Indonesia.

Ia mencontohkan “rojak” di Malaysia yang banyak dibuat oleh orang India, dengan campuran buah-buahan dan petis, mirip dengan rujak buah di Indonesia.

Hal ini menunjukkan adanya kemiripan kuliner antarbudaya, yang kemungkinan dipengaruhi oleh jalur perdagangan atau pertukaran budaya di masa lalu.

Kuncarsono juga menduga bahwa banyak menu makanan di Indonesia, termasuk rujak, kemungkinan besar dipengaruhi dari India.

Namun, ia tidak dapat memastikan secara definitif apakah rujak cingur dibawa langsung dari India, atau merupakan hasil kreasi lokal yang terinspirasi dari hidangan sejenis.

Yang jelas, mengenai klaim dari Mesir, Kuncarsono belum menemukan literatur atau riset yang mendukungnya, sehingga ia tetap menganggapnya sebagai bagian dari cerita lucu yang berkembang di tengah masyarakat.

Terlepas dari kebenaran sejarahnya, hidangan ini tetaplah menjadi salah satu ikon kuliner Surabaya yang tak lekang oleh waktu.

Keunikan rasanya dan keberanian dalam memadukan bahan-bahan yang mungkin terdengar “nyeleneh” bagi sebagian orang, justru menjadi daya tarik utamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist