BRANDA.CO.ID – Sriwijaya adalah kerajaan maritim yang pernah menjadi kekuatan dominan di Asia Tenggara, namun kini sering terlupakan dalam narasi sejarah. Berdiri pada abad ke-7 Masehi, kerajaan ini memainkan peran penting dalam perdagangan, budaya, dan penyebaran agama di kawasan tersebut.
Sriwijaya didirikan pada 16 Juni 682 Masehi oleh Dapunta Hyang, yang tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit. Kerajaan ini berpusat di Palembang, Sumatera Selatan, dan berkembang pesat berkat penguasaan atas jalur perdagangan strategis, terutama Selat Malaka.
Wilayah kekuasaan Sriwijaya meliputi Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Lampung, Jambi, serta bagian dari Semenanjung Malaya dan Thailand selatan.
Pada puncak kejayaannya, kerajaan ini menguasai jalur perdagangan utama antara India dan Tiongkok. Kapal-kapalnya bahkan tercatat memiliki panjang hingga 60 meter, dan mampu menampung hingga 1.000 penumpang.
Kerajaan ini juga menjadi pusat penyebaran agama Buddha Mahayana di Asia Tenggara, menarik biksu-biksu dari berbagai negara untuk belajar di sana.
Sriwijaya meninggalkan berbagai peninggalan budaya dan arsitektur yang mencerminkan kejayaannya. Kompleks Candi Muaro Jambi di Jambi, misalnya, merupakan salah satu situs arkeologi terbesar dan terbaik yang masih ada di Asia Tenggara.
Selain itu, tradisi tenun songket Palembang yang kaya akan motif dan teknik dianggap sebagai warisan budaya, yang berasal dari masa kejayaan Sriwijaya.
Masa kejayaan kerajaan ini mulai meredup pada awal abad ke-11 Masehi, akibat serangan dari Kerajaan Chola di India Selatan yang ingin menguasai perdagangan di Selat Malaka.
Pada tahun 1030/31 Masehi, Prasasti Rajaraja I dari Tanjore mencatat penaklukan Sriwijaya oleh Kerajaan Chola, dan pemimpinnya, Sangramawijayottungawarman, ditawan. Setelah itu, pengaruh Sriwijaya semakin berkurang dan akhirnya kerajaan ini menghilang dari catatan sejarah.

