BRANDA.CO.ID – Urap, hidangan khas Indonesia yang terbuat dari sayuran rebus yang dicampur dengan kelapa parut berbumbu, memiliki sejarah yang panjang dan kaya makna. Makanan ini tidak hanya populer sebagai lauk pendamping nasi, tetapi juga memiliki nilai filosofis dan sakral dalam budaya Jawa.
Sejarah urap dapat ditelusuri hingga abad ke-10 Masehi. Dalam buku “Makanan Tradisional dalam Kajian Pustaka Jawa” yang ditulis oleh Profesor Timbul Haryono dari Universitas Gadjah Mada, disebutkan bahwa hidangan ini telah ada sejak sekitar tahun 929 Masehi.
Hal ini didasarkan pada temuan Prasasti Linggasuntan dari Kerajaan Medang yang memuat kata “wrak-wrak”, yang diartikan sebagai urap. Selain itu, hidangan ini juga memiliki makna simbolis.
Setiap jenis sayuran yang digunakan dalam urap melambangkan nilai-nilai tertentu. Misalnya, kangkung melambangkan adaptabilitas, bayam untuk kehidupan damai, tauge untuk kreativitas, dan kacang panjang untuk panjang umur.
Kombinasi sayuran ini tidak hanya memberikan variasi rasa dan warna, tetapi juga mengandung doa dan harapan bagi yang menyantapnya.
Dalam tradisi Jawa, urap sering menjadi bagian dari upacara adat. Salah satunya adalah upacara sepasaran, yaitu perayaan tujuh hari kelahiran bayi.
Dalam upacara ini, disajikan nasi tumpeng yang disebut tumpeng gudangan, yang berisi nasi dan lauk-pauk, termasuk urap. Urap dalam tumpeng gudangan biasanya menggunakan tujuh jenis sayuran, masing-masing mewakili harapan seperti panjang umur, banyak rezeki, kesabaran, dan kebijaksanaan.
Meskipun dikenal dengan nama “urap”, hidangan serupa dengan nama berbeda dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Di Bali, misalnya, urap dikenal dengan nama lawar; di Sumatera, disebut anyang; dan di beberapa daerah di Jawa, dikenal dengan nama kulub, kuluban, atau gudangan.

