Rebo Wekasan, Warisan Budaya Tolak Bala yang Tetap Hidup di Zaman Modern

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Rebo Wekasan, yang dikenal juga sebagai Rabu Wekasan, merupakan tradisi unik yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa pada hari Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriyah.

Rebo Wekasan dianggap sebagai puncak dari masa-masa sulit dalam bulan Safar, di mana diyakini bahwa Allah SWT menurunkan 320 ribu macam bala atau bencana dalam satu malam.

Tradisi Rebo Wekasan berakar dari ajaran para ulama, seperti Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi, yang menyarankan umat Islam untuk melakukan salat dan berdoa pada hari tersebut guna memohon perlindungan dari bala.

Selain itu, terdapat mitos yang berkembang di masyarakat, seperti larangan menikah atau bepergian pada hari tersebut karena dianggap dapat membawa nasib buruk.

Pada hari tersebut, masyarakat juga disarankan melaksanakan berbagai ritual dan amalan, antara lain salat sunnah empat rakaat dengan membaca surat Al-Fatihah, Al-Kautsar, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, diakhiri dengan doa memohon perlindungan dari Allah SWT.

Selain itu, bisa pula dengan mengadakan perjamuan bersama dengan makanan tradisional atau melemparkan hasil pertanian ke laut, sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan.

Tak hanya itu, beberapa masyarakat menjalankan puasa pada hari tersebut sebagai bentuk ibadah dan permohonan perlindungan, meskipun tidak diajarkan secara khusus dalam syariat Islam.

MengenI tradisinya, kegiatan ini memiliki variasi di setiap daerah, di Wonokromo, Bantul, Yogyakarta, mereka mengadakan kirab lemper raksasa sepanjang 2,5 meter sebagai simbol syukur dan tolak bala.

Sedangkan di Aceh, tradisi ini dikenal dengan sebutan Rabu Abeh, di mana masyarakatnya melakukan doa bersama dan mandi di sungai atau pantai untuk membersihkan diri dari bala.

Rebo Wekasan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga merupakan bentuk kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Meskipun tidak diajarkan secara eksplisit dalam syariat Islam, tradisi ini mencerminkan nilai-nilai spiritual dan sosial yang mendalam dalam masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist