BRANDA.CO.ID – Tumpeng bukan sekadar hidangan khas Indonesia yang tampak indah dan menggugah selera, melainkan simbol budaya dengan akar sejarah dan filosofi mendalam, yang tercermin dalam setiap bentuk dan konsistensinya.
Awalnya, tumpeng lahir dari kepercayaan masyarakat agraris di Jawa, yang memandang gunung sebagai tempat tinggal leluhur dan kekuatan gaib.
Tumpeng dengan nasi berbentuk kerucut ini dibuat sebagai wujud penghormatan kepada kekuatan alam tersebut, khususnya dalam ritual sesajen bagi Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan.
Dengan masuknya Hindu-Buddha, bentuk nasi ini semakin diasosiasikan dengan Gunung Mahameru, kosmos suci dalam kosmologi Hindu-Buddha. Ketika Islam masuk ke Tanah Jawa, makna hidangan inii pun bergeser menjadi simbol syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kini, tumpeng bukan sekadar penghormatan terhadap gunung, melainkan wujud rasa syukur yang dinikmati bersama setelah pengajian atau doa bersama.
Nasi yang berbentuk kerucut mewakili gunung suci, yang di mana hal itu menggambarkan jembatan spiritual antara manusia dan Sang Pencipta, sebuah simbol pencapaian, kemuliaan, dan harapan agar kehidupan terus meningkat.
Tak hanya itu, puncak kerucut juga menggambarkan keikhlasan dan pengabdian manusia kepada Tuhan.
Warna nasi pun tidak dipilih secara acak. Nasi putih melambangkan kesucian dan kemurnian hati, sedangkan nasi kuning menyimbolkan kemakmuran, kebijaksanaan, dan rasa syukur atas karunia Tuhan.
Tumpeng biasanya dikelilingi oleh lauk-pauk yang jumlahnya minimal tujuh, angka “pitu” dalam bahasa Jawa yang bermakna “pitulungan” atau pertolongan. Ini menggambarkan harapan agar rezeki dan keselamatan selalu datang dari berbagai penjuru hidup.
Pemotongan tumpeng biasanya dimulai dari puncak, dan potongan pertama diberikan kepada orang yang paling dihormati, sebagai bentuk penghormatan dan harapan terbaik untuk semua yang hadir.
Adapun tradisi “mengeruk” dari bawah ke atas memiliki makna bahwa dalam hidup, kita memulai dari yang sederhana dan terus naik menuju kebaikan tertinggi.
Dalam perkembangan modern, nasi ini juga menjadi ikon kuliner Indonesia. Pada tahun 2014, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menetapkan tumpeng sebagai hidangan nasional Indonesia, sebuah prestise atas kekayaan budaya kuliner Nusantara.

