BRANDA.CO.ID – Tradisi meniup lilin ulang tahun telah menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap perayaan di berbagai belahan dunia. Namun, tahukah Anda bahwa kebiasaan ini memiliki akar yang dalam dalam sejarah dan budaya kuno?
Tradisi tiup lilin ulang tahun ini diyakini bermula dari Yunani Kuno. Pada masa itu, masyarakat Yunani membuat kue bundar dan menyalakan lilin di atasnya sebagai persembahan kepada Artemis, dewi bulan dan perburuan.
Lilin ulang tahun yang menyala melambangkan cahaya bulan, sementara kue bundar mewakili bentuk bulan purnama. Ritual ini bertujuan untuk menghormati dewi tersebut dan memohon berkah serta perlindungan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini menyebar ke berbagai budaya melalui pengaruh Kekaisaran Romawi. Bangsa Romawi mengadopsi kebiasaan ini dalam perayaan ulang tahun, terutama di kalangan bangsawan.
Di Jerman, tradisi ini dikenal dengan nama Kinderfest, yaitu festival untuk merayakan ulang tahun anak-anak. Pada masa lalu, masyarakat Jerman meyakini bahwa anak-anak sangat rentan terhadap roh jahat di hari ulang tahun mereka.
Oleh karena itu, menyalakan lilin di atas kue ulang tahun dianggap sebagai bentuk perlindungan spiritual bagi si anak. Di Indonesia, tradisi meniup lilin saat ulang tahun telah menjadi kebiasaan yang umum dilakukan.
Biasanya, keluarga dan teman-teman berkumpul untuk merayakan hari spesial seseorang dengan menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”, dan diakhiri dengan meniup lilin di atas kue.
Bagi anak-anak, tradisi meniup lilin memiliki dampak positif. Psikolog Ayoe Sutomo, M.Psi, menjelaskan bahwa kegiatan ini membuat anak merasa istimewa dan mendapatkan perhatian serta kasih sayang.
Perasaan seperti ini penting karena memengaruhi bagaimana anak memandang dirinya dalam relasi dengan lingkungan sekitar, baik ketika mereka masih bertumbuh hingga dewasa nanti.

