BRANDA.CO.ID – Mohammad Hatta atau yang akrab dikenal sebagai Bung Hatta, dikenal sebagai sosok negarawan yang menjunjung tinggi kejujuran dan hidup sederhana.
Dalam buku Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa, diceritakan bahwa Bung Hatta sangat teliti dalam menggunakan uang, hingga ia hanya memakai dana yang memang menjadi haknya.
Bahkan menariknya, Bung Hatta menolak memanfaatkan fasilitas negara seperti mobil dinas atau dana negara, untuk keperluan pribadi atau keluarganya.
Hingga pada suatu malam di tengah dekade 1950-an, ketika tengah membaca koran, ia melihat sebuah iklan sepatu kulit bermerek Bally yang menarik perhatiannya. Karena ketertarikan itu, ia memotong iklan tersebut dengan rapi dan menyimpannya.
Hal itu ia lakukan guna sebagai pengingat atau dorongan agar ia menabung untuk membeli sepatu tersebut.
Namun, meskipun berada pada posisi tinggi sebagai Wakil Presiden dan kemudian dalam masa pensiun, ia tak pernah mewujudkan impian tersebut. Alasannya sederhana yaitu karena ia memilih untuk hidup apa adanya, bahkan dalam kondisi terbatas.
Saat masa pensiun, Hatta memang menerima honor dari karya tulisnya dan sejumlah pensiun jabatan. Tetapi ia harus mengatur pengeluaran rumah tangganya sendiri, termasuk pembayaran listrik dengan sangat bijak dan jujur.
Ada kisah tambahan yang menggambarkan kepedulian publik terhadap kesehariannya, di mana ketika Bung Hatta dilaporkan kesulitan membayar listrik, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, dikabarkan membantu membayar tagihan listriknya.
Setelah wafat pada 14 Maret 1980, ditemukan guntingan iklan sepatu Bally itu di dalam lacinya, yang menjadi saksi bisu bahwa hingga akhir hayatnya, impian kecil itu tak jadi kenyataan.
Kisah ini bukan hanya soal sepatu, melainkan tentang bagaimana seseorang dengan jabatan tinggi bisa konsisten menjaga etika, dan tidak memanfaatkan kedudukan secara berlebihan.

