Benarkah Harus Lempar Rokok di Tanjakan Emen Subang? Ini Mitosnya!

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.IDDi Kampung Cicenang, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, terdapat sebuah jalur yang dikenal dengan nama Tanjakan Emen, sebuah turunan panjang dengan belokan tajam yang telah lama memancing buah bibir di kalangan masyarakat.

Sejak era 1950‑an, jalur Tanjakan Emen ini dianggap angker dan banyak dikaitkan dengan penampakan, atau gangguan makhluk gaib bernama “Emen”.

Salah satu kepercayaan populer berkata, bahwa pengendara yang melintas di Tanjakan Emen harus terlebih dulu melempar sebatang rokok, dan membunyikan klakson agar selamat dari hal‑hal supranatural.

Diketahui, “Emen” ini sendiri merupakan sosok sopir oplet jurusan Lembang‑Subang bernama Taing alias Emen, yang di tahun 1956 mengalami kecelakaan di jalur tersebut.

Hal ini disebabkan oleh kendaraan yang dikemudikannya terbakar dan penumpangnya meninggal di lokasi, sedangkan beliau meninggal kemudian di rumah sakit.

Dalam pandangannya, perkembangan mitos lempar rokok dan bunyikan klakson itu tidak lebih dari upaya masyarakat, menginterprestasikan kondisi jalan sebagai sesuatu yang mistis, bukan sebab utama kecelakaan.

Diketahui pula, yang paling berpengaruh dalam banyak kejadian kecelakaan di Tanjakan Emen adalah panjangnya turunan, kelokan curam, serta kondisi kendaraan yang tak laik jalan atau pengemudi yang kurang berhati‑hati.

Melihat hal tersebut, warga sekita pun mengajak agar pengendara yang melewati jalur ini lebih memilih membaca surat Al‑Fatihah dan Al‑Ikhlas, sebagai ungkapan penghormatan terhadap sang mendiang Emen.

Secara implisit, ia menyampaikan bahwa keselamatan di jalan tak cukup bergantung pada ritual atau kepercayaan mistis, melainkan pada kewaspadaan, kondisi jalan yang baik, dan kesiapan kendaraan serta pengemudi.

Mitos seperti ini muncul dan bertahan karena adanya wilayah yang secara fisik berisiko tinggi dipakai sebagai jalan raya, di mana masyarakat mencari penjelasan atas tingginya angka kecelakaan.

Dalam konteks Tanjakan Emen, mitos tersebut juga memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dan cerita lisan berevolusi menjadi “aturan tak tertulis” di antara pengendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist