BRANDA.CO.ID – Gunung Kawi di Jawa Timur menyimpan aura mistis yang kuat, tidak hanya sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai pusat misteri pesugihan yang dipercayai sebagian orang.
Bukan sekadar destinasi wisata religi, Gunung Kawi dikenal sebagai lokasi di mana orang datang mencari “keberkahan instan” melalui ritual gaib, meski sebagian pihak menegaskan bahwa itu hanyalah mitos.
Menurut kepercayaan, pesugihan di Gunung Kawi melibatkan perjanjian dengan entitas gaib. Ritual yang paling terkenal adalah penggunaan tumbal kambing “wedhus kendit”, kambing dengan corak putih mirip sabuk, yang disembelih dalam malam-malam keramat seperti Jumat Legi atau 1 Suro.
Para pelaku konon harus menyerahkan nyawa terdekat sebagai imbalan atas kekayaan dan kekuasaan, membuat praktik ini penuh bahaya.
Dua lokasi utama yang dikaitkan dengan pesugihan di Gunung Kawi, adalah Pesarean Gunung Kawi dan Keraton Gunung Kawi.
Di Pesarean terdapat makam Eyang Jugo (Kyai Zakaria II) dan Raden Mas Iman Soedjono, tokoh leluhur yang dihormati oleh peziarah dari berbagai latar budaya, terutama Tionghoa dan Jawa.
Sebuah pohon Dewandaru di dekat makam dipercaya menyimpan energi magis, siapa pun yang mendapatkan daun atau buahnya diyakini bisa memperoleh rezeki besar.
Sementara itu, Keraton Gunung Kawi di puncak gunung menghadirkan suasana sakral dan hening. Terdapat makam tiga sosok pengawal, yaitu Eyang Hamid, Broto, dan Joyo, serta banyak sesajen di sekitar area, yang menimbulkan dugaan bahwa tempat ini juga dipakai untuk ritual pesugihan.
Namun sejumlah penjaga dan juru kunci menolak keras tuduhan tersebut, menganggap Gunung ini murni sebagai tempat ziarah dan tawasul, bukan pesugihan.
Penelitian akademis juga mengungkap sisi sosial dari fenomena ini. Menurut studi, mitos pesugihan Gunung tersebut menjadi bagian dari warisan budaya dan identitas kolektif.
Ada pula pandangan bahwa keyakinan pada pesugihan bisa berkaitan dengan kondisi psikologis pelaku, seperti kecenderungan psikosis.
Meski kisah pesugihannya terus berkembang dari mulut ke mulut, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak peziarah datang semata untuk berdoa, mengenang leluhur, dan mencari keberkahan hidup melalui jalan spiritual yang lebih suci.
Misteri dan kepercayaan di Gunung Kawi mencerminkan kompleksitas antara tradisi, spiritualitas, dan obsesi manusia akan harta instan, di mana “berkah” yang dicari bisa saja datang dari doa tulus, bukan perjanjian gaib.

