Menelusuri Asal Usul Gudeg, Ikon Kuliner Yogyakarta Sejak Abad Ke-16

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Gudeg sejatinya telah menjadi bagian dari warisan kuliner Yogyakarta sejak abad ke-16, tepatnya di masa Kerajaan Mataram. Menurut sumber sejarah, asal-usulnya bermula saat pembukaan hutan Alas Mentaok di Kotagede, di mana para prajurit dan pekerja kerajaan menemukan banyak pohon nangka dan melinjo.

Karena bahan makanan lain sulit diperoleh, mereka mengolah nangka muda dengan santan, gula Jawa, dan rempah-rempah, lalu terus diaduk selama beberapa jam agar tidak gosong, proses ini dalam bahasa Jawa disebut hangudhek, yang konon menjadi asal nama “gudeg” itu sendiri.

Dalam sajian tradisionalnya, gudeg biasanya disajikan bersama nasi, ayam opor, telur pindang, tahu tempe bacem, dan sambal goreng krecek.

Rasa manis legit dari gula Jawa berpadu dengan gurihnya santan, menciptakan cita rasa khas yang sangat identik dengan Yogyakarta.

Sepanjang berabad-abad, hidangan ini terus berkembang. Ada dua varian utama yang kini populer: yakni versi basah dengan kuah santan kaya rasa, dan versi kering yang lebih tahan lama dan sering dijadikan oleh-oleh khas Jogja.

Versi lain dari sejarah makanan ini menyebutkan bahwa hidangan tersebut turut menyertai pasukan Mataram, saat penyerangan ke Batavia pada 1726–1728 sebagai bekal perjalanan.

Selanjutnya, pada era modern, sajian ini semakin melejit popularitasnya, tidak hanya sebagai hidangan sehari‑hari, tetapi juga sebagai ikon kuliner Yogyakarta yang digemari wisatawan.

Dengan segala keunikannya, dari proses memasak yang telaten hingga peran sejarahnya, gudeg tidak hanya sekadar makanan, tetapi simbol ketekunan dan identitas budaya masyarakat Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist