BRANDA.CO.ID – Sering terdengar cerita dari banyak orang bahwa saat tengah tidur, mereka mengalami ketindihan, tiba-tiba tubuh terasa kaku, tak bisa digerakkan, bahkan terasa ada sesosok di atas dada, lalu muncul ketakutan, bayangan, atau sensasi menakutkan.
Dalam budaya populer, pengalaman ketindihan itu langsung dikaitkan dengan makhluk halus atau roh jahat. Namun, benarkah fenomena terbit adalah akibat gangguan dari mahluk halus? Ataukah ada penjelasan ilmiahnya?
Menurut para pakar saraf dan gangguan tidur, kondisi yang sering disebut ketindihan sesungguhnya dikenal sebagai Sleep paralysis atau kelumpuhan tidur.
Tidur manusia bukanlah proses tunggal, otak dan tubuh melewati berbagai fase, mulai dari tidur ringan hingga tidur dalam yang disebut NREM, lalu fase tidur mimpi yang juga dikenal REM.
Di fase REM inilah otot tubuh secara alami “dilumpuhkan” sementara, supaya ketika kita bermimpi, tubuh tidak bergerak mengikuti mimpi, sebuah mekanisme proteksi dari otak.
Kadang, seseorang “terbangun” saat tubuh masih berada dalam kondisi lumpuh, sementara kesadarannya sudah kembali. Inilah yang menyebabkan rasa tidak bisa bergerak, sulit berbicara, bahkan sesak napas atau dada terasa tertekan.
Karena otak “terjaga” tetapi tubuh belum “berfungsi kembali”, sering muncul halusinasi sensoris, bayangan, suara, sensasi berat di dada yang terasa sangat nyata.
Karena halusinasi itu bisa menyerupai bayangan sosok, rasa “ditindih”, atau kehadiran makhluk asing di kamar, maka di banyak budaya fenomena ini dipersepsikan sebagai gangguan makhluk halus.
Tapi para ahli menegaskan bahwa penjelasan medis jauh lebih rasional, ketindihan adalah gangguan tidur parasomnia, bukan serangan gaib.
Beberapa faktor diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sleep paralysis: kurang tidur, jadwal tidur tidak teratur, stres atau kecemasan, sering bergadang, atau kebiasaan tidur terlentang.
Meski pengalaman ketindihan bisa terasa mengerikan, dada sesak, jantung berdebar, rasa takut tinggi, secara medis biasanya tidak membahayakan dan bersifat sementara.
Karena itu, anggapan bahwa ketindihan selalu akibat makhluk halus bisa dipandang sebagai mitos, sebuah penafsiran budaya terhadap pengalaman fisik yang sebenarnya dapat dijelaskan melalui proses neurologis dan tidur.
Bagi siapa saja yang pernah mengalami ketindihan, penting untuk tahu bahwa kamu tidak sendiri, dan bahwa fenomena ini bukan pertanda diganggu secara mistis. Alih-alih ketakutan atau ritual, menjaga pola tidur sehat, seperti cukup tidur, hindari stres, atur jadwal tidur teratur.

