Legenda Jaka Tarub dan 7 Bidadari Cantik, Dongeng Klasik Nusantara

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Di sebuah hutan yang sepi, hiduplah seorang pemuda sederhana bernama Jaka Tarub. Suatu ketika, saat ia berburu jauh di dalam hutan, terdengar dari kejauhan suara tawa perempuan dan gemericik air yang membuatnya penasaran.

Di balik rimbunnya pepohonan, Jaka Tarub mendekati sumber suara, dan betapa terkejutnya ketika ia melihat tujuh bidadari menari dan mandi di sebuah telaga, tubuh mereka bersinar bagaikan cahaya rembulan, lembut dan anggun seperti mimpi.

Kecantikan mereka begitu memikat, terutama satu di antara mereka, yakni bernama Nawang Wulan. Jaka Tarub, yang hatinya terbuai oleh keindahan, diam-diam mendekati, lalu mengambil selendang yang tergantung di atas batu milik Nawang Wulan.

Tanpa selendang itu, Nawang Wulan tak bisa kembali ke kahyangan bersama saudari‑saudarinya. Ketika para bidadari selesai mandi dan siap terbang kembali ke langit, Nawang Wulan panik, selendangnya hilang.

Satu per satu bidadari terbang, meninggalkannya sendirian. Dalam kesedihan dan kebingungan, Nawang Wulan tak bisa pulang.

Jaka kemudian muncul dan berpura-pura menawarkan bantuan: ia mengembalikan selendang jika Nawang Wulan bersedia menjadi isterinya. Tanpa pilihan lain, Nawang Wulan menerima dan tinggal bersama Jaka Tarub di bumi.

Mereka hidup bersama dan dikaruniai seorang anak. Untuk sementara, kehidupan mereka tampak bahagia, Nawang Wulan bahkan membawa keajaiban: beras mereka tak pernah habis berkat kekuatan istimewa.

Namun, ada persyaratan: Jaka dilarang membuka tutup periuk saat Nawang Wulan sedang menanak nasi. Suatu hari, rasa penasaran Jaka mengambil alih.

Ia membuka periuk, alih‑alih menemukan nasi yang melimpah, hanya ada sebutir padi. Kesaktian itu pun lenyap. Sejak itu, Nawang Wulan harus hidup seperti manusia biasa, dan persediaan beras mereka mulai menipis.

Suatu hari, saat mencari beras di lumbung, Nawang Wulan menemukan selendangnya yang dulu tersembunyi.

Menyadari bahwa suaminya telah merebut miliknya dan mengingkari kepercayaan, ia pun memutuskan untuk kembali ke kahyangan, meninggalkan Jaka Tarub dan anak mereka di dunia manusia.

Sebelum pergi, Nawang Wulan menitipkan anak mereka, dengan pesan agar ia dijaga dengan baik. Dari kejauhan, di malam-malam tertentu, dikatakan Nawang Wulan tetap menyusui anaknya, sebagai wujud cinta seorang ibu yang tak hilang meski telah kembali ke langit.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist