Bukan Sekadar Makan Bersama, Inilah Filosofi Tradisi Papajar Masyarakat Sunda

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Tradisi masyarakat Sunda dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, memang selalu penuh warna dan sarat akan makna filosofis. Salah satu tradisi yang kerap menjadi perbincangan hangat menjelang puasa tahun 2026 ini adalah Papajar.

Meskipun sekilas terlihat mirip dengan tradisi munggahan yang sudah populer secara nasional, Papajar memiliki karakteristik unik dan sejarah yang menjadikannya istimewa bagi masyarakat di wilayah Jawa Barat, khususnya di daerah Cianjur dan sekitarnya.

Secara harfiah, istilah Papajar berasal dari kata “mapag fajar”, yang memiliki arti menyongsong atau menyambut datangnya cahaya fajar. Dalam konteks spiritual, cahaya fajar yang dimaksud adalah kedatangan bulan suci Ramadhan, yang diibaratkan sebagai cahaya penyuci bagi umat Muslim.

Berbeda dengan munggahan yang biasanya dilakukan bersama keluarga inti di rumah, tradisi ini sering kali dikemas dalam bentuk rekreasi atau piknik bersama ke tempat-tempat wisata alam atau area terbuka.

Masyarakat biasanya berbondong-bondong membawa perbekalan makanan untuk dinikmati bersama di tepi pantai, pegunungan, atau area persawahan. Momentum ini bukan sekadar ajang makan-makan besar, melainkan sebuah ritual silaturahmi untuk saling memaafkan sebelum memasuki bulan pertobatan.

Dengan berkumpul di alam terbuka, masyarakat Sunda diingatkan akan keagungan sang pencipta sembari mempererat ikatan persaudaraan antar tetangga dan kerabat jauh.

Selain nilai sosial, kegiatan ini juga memiliki dimensi ekonomi yang cukup signifikan, karena mampu menggerakkan roda pariwisata lokal dan sektor UMKM kuliner di Jawa Barat.

Menjelang Ramadhan 2026, antusiasme warga untuk merayakan Papajar diprediksi tetap tinggi, sebagai bentuk syukur atas kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan yang penuh berkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist