Mojtaba Khamenei Resmi Menjadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran di Tengah Ketegangan Global

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Mojtaba Khamenei resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, menggantikan mendiang Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara oleh militer Israel dan Amerika Serikat pada akhir Februari 2026.

Mojtaba Khamenei terpilih oleh Majelis Pakar, lembaga ulama beranggotakan 88 anggota yang memiliki otoritas konstitusional, untuk memilih pemimpin tertinggi setelah terjadi kekosongan jabatan. Keputusan ini diumumkan secara resmi pada Senin, 9 Maret 2026, di kawasan Timur Tengah.

Seorang anggota majelis, Mohsen Heidari Alekasir, mengatakan dalam sebuah video bahwa seorang kandidat telah dipilih berdasarkan arahan Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran harus “dibenci oleh musuh”.

“Bahkan Setan Besar (Amerika Serikat) pun menyebut namanya,” kata Heidari Alekasir.

Khamenei, yang kini berusia 56 tahun, dinilai sebagai figur yang selama ini kuat secara informal di belakang layar politik Iran, meskipun belum pernah memegang jabatan politik atau pemerintahan formal.

Ia dikenal memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), institusi militer dan politik paling berpengaruh di Iran, yang menyatakan kesetiaannya kepada pemimpin baru tersebut.

Dukungan IRGC ini dipandang sebagai langkah penting untuk memastikan stabilitas rejim, di tengah perang yang terus berkecamuk antara blok pro‑Iran dengan pasukan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pernyataan pemerintahnya, Majelis Pakar menegaskan bahwa penunjukan Mojtaba dilakukan secara tegas, meski di bawah tekanan eksternal dan situasi keamanan yang genting.

Proses suksesi berlangsung lebih cepat dari biasanya, karena kebutuhan negara untuk memiliki otoritas tertinggi di tengah konflik yang semakin intens. Penetapan ini juga menggarisbawahi dominasi kelompok garis keras dalam struktur kekuasaan Iran, yang diperkirakan akan melanjutkan kebijakan keras terhadap lawan‑lawan internasional, terutama Amerika Serikat.

Reaksi internasional atas pengumuman ini sangat beragam. Kelompok yang didukung Iran, seperti Houthi di Yaman, menyambut baik pengangkatan Mojtaba dan menyebutnya sebagai pukulan terhadap musuh‑musuh Republik Islam.

Namun, di sisi lain, negara‑negara Barat, khususnya Amerika Serikat, telah menyuarakan penolakan terhadap kepemimpinan baru ini, mencerminkan kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik yang lebih luas.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist