Dari Viral ke Sepi, Gerai Mixue Satu Per Satu Tutup di Tahun 2026

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Fenomena Mixue Ice Cream & Tea di Indonesia pernah menjadi salah satu kisah sukses bisnis minuman kekinian yang paling mencuri perhatian.

Dengan konsep es krim dan minuman murah, Mixue di brand asal China ini mampu menjamur dengan cepat di berbagai kota, bahkan hingga ke pinggir jalan dan area pemukiman.

Namun memasuki tahun 2026, situasi mulai berubah drastis. Sejumlah gerai Mixue dilaporkan tutup satu per satu, memicu pertanyaan publik tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa sejumlah outlet di wilayah Jakarta seperti Ciracas, Condet, Cijantung hingga Pondok Gede sudah tidak lagi beroperasi sejak awal Maret 2026. Bahkan, ada gerai yang resmi berhenti beroperasi per 6 Maret 2026 tanpa adanya pernyataan resmi dari pihak manajemen.

Kondisi ini tentu cukup kontras dengan beberapa tahun sebelumnya, ketika gerai Mixue selalu dipenuhi antrean panjang pembeli. Jika menilik ke belakang, Mixue pertama kali masuk ke Indonesia sekitar tahun 2020 dan langsung mendapat sambutan luar biasa.

Strategi harga murah dan lokasi yang mudah dijangkau menjadi kunci utama kesuksesannya. Dalam waktu singkat, ribuan gerai bermunculan, bahkan sering terlihat berdiri berdekatan dalam satu kawasan.

Namun, ekspansi yang terlalu cepat justru menjadi bumerang. Sistem waralaba memungkinkan banyak mitra membuka gerai tanpa kontrol jarak yang ketat.

Akibatnya, terjadi kanibalisme pasar di mana satu gerai harus berbagi konsumen dengan gerai lain yang jaraknya sangat dekat. Hal ini membuat omzet tidak maksimal dan berdampak pada keberlangsungan bisnis.

Selain itu, tren bisnis berbasis viralitas juga menjadi faktor penting. Banyak investor yang membuka gerai hanya karena mengikuti tren tanpa perencanaan jangka panjang. Ketika popularitas mulai menurun, jumlah pelanggan pun ikut berkurang.

Ditambah lagi dengan meningkatnya persaingan dari brand minuman serupa, membuat posisi Mixue semakin tertekan di pasar. Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah perubahan daya beli masyarakat.

Target utama Mixue yang berasal dari kelas menengah mulai mengalami tekanan ekonomi, sehingga pengeluaran untuk konsumsi non-primer seperti minuman kekinian ikut menurun. Hal ini secara langsung berdampak pada penjualan harian gerai.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa penutupan beberapa gerai tidak selalu berarti brand ini mengalami kebangkrutan. Dalam banyak kasus, fenomena ini lebih mencerminkan fase seleksi alami dalam bisnis franchise, di mana hanya gerai dengan performa terbaik yang mampu bertahan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist