BRANDA.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Cianjur mulai bersiap menghadapi potensi kekeringan yang diprediksi terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Status siaga darurat bencana hidrometeorologi yang saat ini berlaku pun berpeluang diperpanjang sebagai langkah antisipasi.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Indonesia diperkirakan mulai berlangsung pada April hingga Juni 2026.
Kondisi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi kering, seperti krisis air bersih di sejumlah wilayah.
Saat ini, status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Cianjur dijadwalkan berakhir pada 30 April 2026.
Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Asep Sudrajat, mengatakan pihaknya tengah mempertimbangkan perpanjangan status tersebut. Namun, keputusan resmi akan diambil setelah melalui rapat internal dan kajian menyeluruh.
“Kemungkinan diperpanjang, tapi akan kami bahas terlebih dahulu. Masih ada waktu sekitar satu bulan sebelum status berakhir,” ujar Asep, kepada wartawan, Kamis (26/3/2026).
Menurutnya, potensi kekeringan menjadi salah satu pertimbangan utama. BPBD juga akan berkoordinasi dengan sejumlah instansi, termasuk Perumdam Cianjur, untuk memastikan ketersediaan sumber air bersih bagi masyarakat.
“Kami akan lakukan pengecekan sumber mata air sebagai langkah antisipasi dampak kemarau,” katanya.
Ia menegaskan, musim kemarau merupakan bagian dari bencana hidrometeorologi yang perlu diwaspadai dan ditangani secara serius, terutama untuk mencegah krisis air di wilayah rawan.***

