BRANDA.CO.ID — Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan dan Perindustrian (Diskumindag) menegaskan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan industri batu akik sebagai salah satu potensi ekonomi kreatif daerah.
Hal ini disampaikan Kepala Diskumindag Kota Sukabumi, Een Rukmini, di sela ajang Kemilau Batu Bercahaya Piala Wali Kota Sukabumi di Gedung Djuang, Minggu (5/4/2026) lalu.
Een mengungkapkan, langkah awal yang dilakukan pihaknya adalah melakukan pendataan menyeluruh terhadap pelaku industri batu akik di Kota Sukabumi. Selama ini, data yang dimiliki masih terbatas dan belum menggambarkan potensi riil di lapangan.
“Pertama kita akan mendata dulu di beberapa kecamatan. Selama ini dari Dekranasda yang terdata masih sedikit. Dari pameran ini ternyata terlihat pelaku industri cukup banyak, ini menjadi potensi besar untuk kita kembangkan,” ujarnya.
Menurutnya, pendataan tersebut penting untuk memastikan apakah pelaku usaha benar berasal dari Kota Sukabumi atau hanya memasarkan produk dari luar daerah.
Jika terbukti merupakan pelaku lokal, pemerintah akan berupaya merangkul dan mendorong pengembangannya.
“Kalau memang pelaku industrinya dari kota, tentu akan kita rangkul. Ini bisa mendongkrak perekonomian masyarakat Kota Sukabumi,” tambahnya.
Een juga mengungkapkan, industri batu akik Sukabumi memiliki peluang besar di pasar internasional.
Bahkan, dari hasil dialog dengan peserta pameran, diketahui ada pelaku usaha yang telah melayani pembeli dari luar negeri hingga Jerman.
“Tadi ada yang cerita pernah didatangi pembeli dari Jerman. Setelah kita dalami, ternyata mereka sudah memasarkan produknya ke luar negeri. Ini menunjukkan potensi ekspor kita sangat terbuka,” katanya.
Terkait kendala yang dihadapi pelaku usaha, khususnya tingginya biaya ekspor, Diskumindag mengakui belum dapat memberikan subsidi karena keterbatasan anggaran daerah.
Namun demikian, pemerintah tengah menyiapkan solusi alternatif melalui jejaring diaspora Indonesia di luar negeri.
“Memang untuk biaya ekspor ada aturan dan belum bisa disubsidi karena tidak ada di APBD. Tapi kita akan cari solusi, salah satunya dengan diaspora yang sudah punya jaringan pasar di luar negeri agar produk batu akik bisa ikut masuk,” jelasnya. (Her)

