BRANDA.CO.ID – Di tengah lanskap kuliner Jawa Barat yang kaya rasa, terselip sebuah kudapan manis bernama wajit. Lebih dari sekadar penganan legit berbalut daun jagung kering, cemilan ini menyimpan jejak sejarah yang menarik, terutama di masa pendudukan Belanda.
Siapa sangka, kelezatan sederhana ini pernah menjadi simbol perlawanan dan identitas bagi rakyat Sunda yang tertindas. Wajit, dengan teksturnya yang kenyal dan rasa manis legit dari beras ketan, gula aren, dan kelapa parut, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner Sunda sejak lama.
Namun, di era kolonialisme Belanda, keberadaannya mendapatkan dimensi baru. Saat tekanan ekonomi dan politik semakin mencekik kehidupan masyarakat pribumi, wajit menjelma menjadi lebih dari sekadar makanan.
Pada masa itu, berbagai bentuk perlawanan terhadap penjajah muncul di berbagai pelosok tanah air. Di Jawa Barat, semangat perlawanan seringkali diwujudkan dalam cara-cara yang unik dan tersembunyi.
Salah satunya adalah melalui simbol-simbol budaya dan tradisi lokal. Wajit, sebagai makanan yang akrab di lidah dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, menjadi salah satu medium ekspresi perlawanan tersebut.
Bagaimana hidangan ini bisa menjadi simbol pemberontakan? Ada beberapa interpretasi menarik mengenai hal ini. Pertama, proses pembuatan wajit yang membutuhkan gotong royong dan kebersamaan bisa menjadi metafora persatuan dan solidaritas rakyat dalam menghadapi penindasan.
Mengumpulkan bahan-bahan, memasak, hingga membungkus hidangan ini secara bersama-sama memperkuat ikatan sosial di antara masyarakat.
Kedua, rasa manis cemilan ini yang memberikan energi dan kebahagiaan di tengah kesulitan hidup, bisa diartikan sebagai harapan dan semangat untuk terus berjuang.
Di masa serba sulit, menikmati sepotong cemilan ini bisa menjadi pengobat lara dan penyemangat untuk tidak menyerah pada keadaan.
Ketiga, bentuknya yang sederhana dan terbungkus rapat dalam daun jagung kering bisa melambangkan ketahanan dan kemampuan masyarakat Sunda, untuk mempertahankan identitas dan tradisi mereka di tengah gempuran budaya asing.
Bungkus daun jagung yang melindungi kelezatan di dalamnya bisa diibaratkan sebagai upaya menjaga nilai-nilai luhur leluhur dari pengaruh kolonialisme.

