BRANDA.CO.ID – Suku Dayak merupakan salah satu kelompok etnis asli Indonesia yang mendiami Pulau Kalimantan. Dengan jumlah populasi sekitar 3 juta jiwa, mereka tersebar di lima provinsi Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Menurut penelitian, nenek moyang Suku Dayak berasal dari wilayah Yunnan di China Selatan, tepatnya di sekitar Sungai Yangtze, Sungai Mekong, dan Sungai Menan. Mereka kemudian bermigrasi melalui Semenanjung Malaysia dan akhirnya menetap di Kalimantan.
Nama “Dayak” sendiri diberikan oleh penjajah Belanda untuk menyebut kelompok etnis ini. Suku Dayak dikenal sebagai kelompok yang tinggal di daerah aliran sungai dan hutan, dengan mata pencaharian sebagai nelayan dan petani.
Suku Dayak terdiri dari lebih dari 200 sub-etnis yang terbagi dalam enam rumpun utama:
- Rumpun Klemantan
- Rumpun Murut
- Rumpun Iban
- Rumpun Apokayan
- Rumpun Ot Danum-Ngaju
- Rumpun Punan
Rumpun Punan dianggap sebagai yang paling lama mendiami Kalimantan. Meskipun terdapat banyak sub-etnis, mereka memiliki kesamaan dalam budaya, seperti rumah panjang, peralatan tradisional seperti tembikar, sumpit, mandau, dan beliung, serta seni tari yang khas.
Tradisi Suku Dayak
1. Tradisi Kuping Panjang
Di Kalimantan Timur, perempuan Dayak memiliki tradisi memanjangkan telinga mereka. Keyakinan di balik tradisi ini adalah bahwa telinga yang panjang membuat perempuan terlihat semakin cantik.
Selain itu, memanjangkan telinga juga memiliki nilai simbolis dalam menunjukkan status kebangsawanan dan melatih kesabaran. Proses memanjangkan telinga melibatkan penggunaan logam sebagai pemberat yang ditempatkan di bawah telinga atau digunakan untuk anting-anting.
Perempuan Dayak diperbolehkan memanjangkan telinga hingga dada, sementara laki-laki bisa memanjangkan telinga hingga bawah dagu.
2. Tradisi Tato
Tato atau rajah adalah simbol kekuatan, hubungan dengan Tuhan, dan perjalanan kehidupan bagi suku Dayak. Tradisi tato ini masih dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan Dayak.
Proses pembuatan tato terkenal karena masih menggunakan peralatan sederhana, di mana orang yang akan ditato akan menggigit kain sebagai pereda sakit, dan tubuhnya akan dipahat menggunakan alat tradisional.
3. Tradisi Tiwah
Tiwah adalah upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Upacara ini bertujuan untuk menghormati roh leluhur dan memohon keselamatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Prosesnya melibatkan pemindahan tulang belulang dari kuburan lama ke kuburan baru setelah beberapa tahun meninggalnya seseorang.
4. Tradisi Ngayau
Ngayau adalah tradisi perang suku yang dilakukan oleh Suku Dayak pada masa lalu. Tradisi ini bertujuan untuk membela diri dan menunjukkan keberanian. Namun, sejak masa penjajahan Belanda, tradisi ini mulai ditinggalkan dan digantikan dengan kegiatan yang lebih positif.

