BRANDA.CO.ID – Meski menuai beragam kritik dari penonton dan kritikus, Kung Fu Soccer sukses mencatat pencapaian luar biasa di box office China dengan meraup pendapatan lebih dari 455 juta yuan, atau sekitar Rp1,2 triliun hanya dalam dua hari pertama penayangan.
Tak sedikit yang menyebut Kung Fu Soccer sebagai penerus spiritual film legendaris Shaolin Soccer yang dirilis pada 2001, dan hingga kini masih memiliki basis penggemar yang besar.
Kung Fu Soccer menjadi proyek penyutradaraan terbaru Stephen Chow setelah vakum selama tujuh tahun. Film ini sekaligus menandai kembalinya sang sineas ke layar lebar sejak terakhir menyutradarai The New King of Comedy pada 2019.
Menurut laporan media China, antusiasme penonton sudah terlihat sejak hari pertama penayangan. Film tersebut langsung menjadi salah satu rilisan musim panas paling sukses di China pada 2026, sekaligus membantu menghidupkan kembali industri bioskop yang sempat mengalami perlambatan.
Berbeda dari Shaolin Soccer yang berfokus pada tim sepak bola pria, Kung Fu Soccer menghadirkan cerita baru tentang perjuangan sebuah tim sepak bola perempuan yang kerap dipandang sebelah mata.
Dalam film ini, para pemain memadukan teknik bela diri Shaolin dengan strategi sepak bola modern demi mengejar gelar juara. Formula khas Stephen Chow yang memadukan aksi, komedi absurd, dan adegan laga tetap menjadi daya tarik utama sepanjang film.
Kung Fu Soccer menghadirkan jajaran pemain papan atas, seperti Zhang Xiaofei, Dilraba, dan Lay Zhang. Film ini juga dimeriahkan penampilan spesial Carina Lau serta aktor Jepang Takeru Satoh yang semakin memperkuat daya tariknya di pasar internasional.
Untuk menjangkau lebih banyak penonton global, rumah produksi merilis film ini dalam berbagai versi bahasa, termasuk Mandarin, Kanton, Inggris, Korea, Jepang, hingga Thailand. Strategi tersebut dinilai sejalan dengan tingginya perhatian dunia terhadap ajang Piala Dunia FIFA 2026.
Berdasarkan data platform penjualan tiket Maoyan, Kung Fu Soccer menguasai sekitar 48,2 persen jadwal penayangan nasional pada hari pertama.
Film ini juga membukukan pendapatan sekitar 260 juta yuan hanya dalam sehari, atau menyumbang lebih dari 80 persen total pemasukan bioskop di China pada hari tersebut. Capaian itu membuat pasar bioskop China kembali menembus angka 300 juta yuan, untuk pertama kalinya dalam lebih dari 130 hari.
Di balik kesuksesan finansialnya, Kung Fu Soccer juga menerima banyak kritik. Di platform ulasan Douban, film ini memperoleh nilai sekitar 6,6 dari 10.
Sebagian penonton memuji keberanian Stephen Chow mengangkat kisah tim sepak bola perempuan, serta tetap mempertahankan gaya humor khas yang telah menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun.
Namun, tidak sedikit pula yang menilai film tersebut terlalu bergantung pada formula sukses Shaolin Soccer sehingga alur ceritanya terasa kurang segar. Efek visualnya juga menjadi sorotan karena dianggap belum mampu memenuhi ekspektasi sebagian penonton modern.
Meski menuai kritik terkait visual, proses produksi Kung Fu Soccer sebenarnya melibatkan teknologi yang cukup canggih. Laporan menyebut film ini menggunakan lebih dari 1.200 bidikan efek visual (VFX), teknologi motion capture, serta AI rendering untuk menghasilkan berbagai adegan aksi spektakuler.

