BRANDA.CO.ID – Piramida Giza di Mesir merupakan salah satu bangunan paling ikonik di dunia, yang hingga kini masih menyimpan banyak misteri.
Kemegahan struktur Piramida Giza yang telah berdiri selama ribuan tahun membuat banyak orang bertanya-tanya, bagaimana masyarakat Mesir Kuno mampu membangunnya tanpa bantuan teknologi modern.
Tak heran jika berbagai teori bermunculan, termasuk anggapan bahwa Piramida Giza dibangun oleh alien. Namun, di balik teori tersebut, para arkeolog dan ilmuwan memiliki sejumlah penjelasan yang didukung oleh bukti sejarah mengenai proses pembangunannya.
Menurut berbagai kajian sejarah yang dikutip dari National Geographic, kompleks Piramida Giza dibangun sebagai tempat pemakaman para firaun. Dalam kepercayaan Mesir Kuno, para penguasa diyakini akan menjalani kehidupan setelah kematian dan berubah menjadi dewa di alam baka.
Piramida pertama sekaligus yang terbesar dibangun atas perintah Firaun Khufu sekitar tahun 2550 sebelum Masehi. Bangunan tersebut dikenal sebagai Piramida Agung atau Great Pyramid dengan tinggi awal mencapai sekitar 147 meter.
Setelah itu, putra Khufu, Khafre, membangun piramida kedua sekitar tahun 2520 sebelum Masehi. Sementara piramida ketiga yang memiliki ukuran lebih kecil didirikan sekitar tahun 2490 sebelum Masehi.
Piramida Agung tersusun dari sekitar 1,2 juta blok batu dengan berat masing-masing berkisar antara 2,5 hingga 15 ton. Skala pembangunan yang luar biasa inilah yang menjadi alasan, mengapa banyak orang menganggap proyek tersebut mustahil dilakukan oleh manusia pada zamannya.
Selain itu, posisi ketiga piramida yang selaras dengan bintang-bintang tertentu serta keberadaan lorong-lorong di dalam bangunan turut memunculkan berbagai teori konspirasi. Salah satu teori paling populer menyebutkan bahwa alien ikut membantu pembangunan Piramida Giza.
Meski demikian, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa makhluk luar angkasa terlibat dalam pembangunan kompleks piramida tersebut.
Para peneliti justru memiliki sejumlah teori yang dinilai lebih masuk akal, mengenai teknik pembangunan Piramida Giza.
Salah satu teori yang paling banyak diterima menyebutkan, bahwa para pekerja memindahkan balok-balok batu raksasa menggunakan jalur landai, atau ramp yang dilumasi air maupun tanah liat basah agar batu lebih mudah digeser.
Selain ramp, para pekerja diduga memanfaatkan kereta luncur, tali, roller, dan tuas sederhana untuk mengangkat material ke posisi yang lebih tinggi.
Ada pula teori yang menyebutkan jalur landai dibuat di bagian luar piramida dengan bentuk spiral atau zig-zag, sementara teori lain mengusulkan adanya jalur internal di dalam struktur piramida.
Bukti arkeologi juga menunjukkan bagaimana material bangunan diangkut menuju Giza. Batu granit didatangkan dari tambang Aswan menggunakan perahu melalui Sungai Nil dan jalur air buatan.
Selain itu, alat pemotong berbahan tembaga berasal dari Semenanjung Sinai, sedangkan kayu untuk kebutuhan konstruksi didatangkan dari Lebanon.
Temuan-temuan tersebut memperlihatkan, bahwa masyarakat Mesir Kuno memiliki kemampuan logistik dan teknik konstruksi yang sangat maju untuk zamannya.


