BRANDA.CO.ID – Tak pernah terbayang oleh Afiny Maulida Syifa bahwa langkah pertamanya mengikuti sebuah kompetisi justru akan membawanya berdiri di panggung internasional. Mahasiswi semester dua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) itu berhasil meraih Juara II dalam Digital Teaching Media Competition pada ajang International Conference on Elementary Education (ICEECE) 2026 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Cirebon.
Di balik senyum dan rasa syukurnya, tersimpan cerita tentang keberanian seorang mahasiswa baru yang memilih untuk mencoba, belajar, dan keluar dari zona nyaman.
Bagi Afiny, prestasi tersebut bukan sekadar trofi atau sertifikat. Lebih dari itu, pencapaian ini menjadi bukti bahwa kesempatan dapat datang kepada siapa saja yang mau terus belajar dan berinovasi.
“Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi saya pribadi. Saya ingin terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, lebih aktif, dan lebih inovatif. Saya juga sangat senang bisa membawa nama Universitas Muhammadiyah Sukabumi ke ajang internasional,” ujarnya.
Mahasiswi semester dua itu berharap keberhasilannya menjadi motivasi, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi teman-teman mahasiswa lainnya untuk terus berkarya di bidang pendidikan.
Menurutnya, UMMI memiliki potensi besar untuk terus melahirkan lulusan yang kreatif, adaptif, dan siap menghadapi perkembangan teknologi, khususnya dalam dunia pendidikan dasar.
“Semoga saya maupun kampus bisa terus berkembang dan menghasilkan generasi yang semakin inovatif di masa depan,” tuturnya.
Menariknya, kompetisi internasional tersebut merupakan pengalaman pertama Afiny mengikuti perlombaan sejak menjadi mahasiswa.
Meski baru pertama kali tampil, ia mampu bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi melalui karya media pembelajaran digital berbentuk komik yang mengangkat tema Profil Pelajar Pancasila.
Komik digital tersebut dirancang sebagai media pembelajaran yang menarik, interaktif, sekaligus relevan dengan kebutuhan pembelajaran di era digital.
Bagi Afiny, karya itu bukan hanya tugas akademik, melainkan bentuk kepedulian terhadap bagaimana calon guru harus mampu menghadirkan proses belajar yang kreatif dan menyenangkan.
“Ini adalah lomba pertama yang saya ikuti. Materinya tentang media pembelajaran digital, dan saya membuat komik digital bertema Profil Pelajar Pancasila. Pengalaman ini sangat berharga bagi saya,” ungkapnya.
Di balik keberhasilan Afiny, terdapat sosok dosen yang sejak awal melihat potensi besar dalam dirinya. Ketua Program Studi PGSD FKIP UMMI, Iis Nurasiah, mengaku memilih Afiny bukan tanpa alasan.
Menurutnya, sejak mengikuti perkuliahan, Afiny menunjukkan kemampuan akademik yang baik, memiliki penguasaan bahasa Inggris yang memadai, serta literasi digital yang menjadi modal penting dalam kompetisi tersebut.
“Alhamdulillah Afiny berhasil meraih Juara II. Sejak di kelas saya melihat ia memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik dan sangat menguasai literasi digital. Saat Ujian Akhir Semester pun ia mampu menampilkan media pembelajaran sejarah yang sangat menarik,” jelas Iis.
Keberhasilan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Program Studi PGSD FKIP UMMI. Bagi Iis, prestasi mahasiswa bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga menjadi bukti bahwa mahasiswa UMMI mampu bersaing di tingkat internasional melalui inovasi dan kreativitas.
“Alhamdulillah, saya sangat bangga. Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi PGSD FKIP UMMI karena mahasiswa kami mampu membawa nama baik kampus di kancah internasional,” pungkasnya.
Kisah Afiny menjadi pengingat bahwa mimpi besar tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Terkadang, keberanian mengikuti perlombaan pertama justru menjadi awal perjalanan menuju prestasi yang menginspirasi banyak orang.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pendidikan, mahasiswa muda seperti Afiny membuktikan bahwa kreativitas, kerja keras, dan semangat belajar mampu menembus batas hingga tingkat dunia.***


