5 Penyebab Kebakaran Hutan di Kalimantan Sulit Padam, Bukan Cuma karena Kemarau

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan kembali menjadi perhatian saat musim kemarau 2026 memasuki periode rawan. Kondisi cuaca yang kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar di sejumlah wilayah.

Namun, kebakaran hutan di Kalimantan bukan cuma dipengaruhi oleh cuaca panas. Ada sejumlah faktor lain yang membuat api sulit dikendalikan, mulai dari aktivitas manusia, kondisi lahan gambut, hingga pengaruh cuaca dan angin.

Salah satu penyebab utama kebakaran hutan Kalimantan sulit dipadamkan adalah kondisi lahan yang mengering selama musim kemarau.

Saat curah hujan menurun, tumbuhan, semak, rumput, serta material organik di permukaan tanah menjadi lebih mudah terbakar. Api pun bisa menyebar lebih cepat ketika bahan bakar alami di sekitar lokasi kebakaran berada dalam kondisi kering.

BMKG juga memperingatkan bahwa risiko karhutla meningkat pada periode Agustus hingga September, terutama di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Faktor berikutnya adalah keberadaan lahan gambut. Karakteristik gambut membuat penanganan kebakaran menjadi jauh lebih rumit dibandingkan kebakaran di lahan biasa.

Ketika gambut dalam kondisi kering, api tidak hanya membakar bagian permukaan. Api bisa menjalar ke lapisan bawah tanah dan bergerak secara perlahan.

Kondisi tersebut membuat titik api terkadang sulit terlihat. Bahkan setelah api di permukaan berhasil dipadamkan, bara di bawah tanah masih dapat bertahan dan kembali menimbulkan kebakaran ketika kondisi mendukung.

Selain faktor alam, aktivitas manusia juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Pembukaan lahan dengan cara membakar dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terlebih ketika dilakukan saat kondisi lingkungan sedang kering.

Api yang awalnya berada di area terbatas dapat menyebar apabila tidak dikendalikan dengan baik. Kondisi angin dan bahan bakar yang kering kemudian membuat api semakin cepat meluas.

Karena itu, pencegahan kebakaran tidak hanya bergantung pada proses pemadaman. Pengawasan dan pencegahan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran juga menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko karhutla.

Faktor cuaca lainnya yang disebut berkaitan dengan risiko kebakaran adalah El Niño. Fenomena iklim ini dapat menyebabkan kondisi yang lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Ketika kekeringan berlangsung lebih lama, kelembapan tanah dan vegetasi ikut menurun. Akibatnya, material yang berada di sekitar hutan dan lahan menjadi lebih mudah terbakar.

Dalam kondisi seperti ini, api juga berpotensi lebih cepat menyebar dan proses pemadaman menjadi semakin menantang. AFU.id menyebut kombinasi kekeringan, aktivitas manusia, El Niño, lahan gambut, dan angin sebagai faktor yang membuat karhutla di Kalimantan sulit dihentikan.

Angin juga punya peran besar dalam memperluas kebakaran hutan. Tiupan angin dapat membuat api bergerak dari satu area ke area lainnya sekaligus membawa bara atau material yang terbakar.

Semakin kuat angin dan semakin kering kondisi lahan, semakin besar pula potensi api menyebar. Angin juga dapat membuat asap bergerak jauh dari lokasi kebakaran.

Dampaknya bukan hanya dirasakan di sekitar titik api. Kabut asap dari kebakaran di Kalimantan bahkan dapat bergerak melintasi wilayah perbatasan menuju Malaysia ketika kondisi angin mendukung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist