BRANDA.CO.ID – Peralihan dari sistem pencoblosan manual ke pemungutan suara berbasis digital membuat Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, mulai memperkuat sosialisasi kepada masyarakat.
Tak hanya sebatas penyampaian materi, warga juga diajak mengikuti simulasi secara langsung. Langkah tersebut dilakukan agar calon pemilih terbiasa menggunakan perangkat digital sebelum pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2026.
Camat Cidaun Gagan Rusganda mengatakan, perubahan sistem pemilihan membutuhkan pemahaman yang cukup dari masyarakat. Terlebih, Pilkades digital menjadi pengalaman baru bagi sebagian besar calon pemilih.
“Prinsipnya ada perubahan pola pemilihan yang dulunya manual dengan dicoblos, tahun ini Cianjur menggunakan sistem digital. Sosialisasi dan simulasi ini adalah bagian dari literasi masyarakat, khususnya calon pemilih, agar mereka mahir mengoperasikan perangkat saat hari H nanti,” ujar Gagan saat dihubungi melalui aplikasi WhatsApp, Selasa (29/9/2026).
Di Kecamatan Cidaun, simulasi difokuskan di dua desa yang akan menggelar Pilkades serentak 2026, yakni Desa Cidamar dan Desa Kertajadi.
Dalam simulasi, warga diperkenalkan secara bertahap dengan alur pemungutan suara digital. Mulai dari datang ke TPS, menerima lembar verifikasi berkode QR, hingga menggunakan perangkat yang telah disiapkan di bilik suara.
“Termasuk mengenalkan lembar kode QR yang dipindai pada bagian belakang tablet yang berada di bilik suara. Setelah itu, calon kepala desa akan muncul di layar tablet dan warga cukup menyentuh foto kandidat pilihan mereka,” jelasnya.
Bagi Gagan, sosialisasi menjadi bagian penting untuk memastikan perubahan sistem tersebut tidak justru menimbulkan kebingungan pada hari pemungutan suara.
Pasalnya, aktivitas masyarakat di wilayah tersebut cukup beragam. Sebagian besar warga sehari-hari bekerja sebagai petani, nelayan, maupun pedagang sehingga tidak seluruhnya dapat mengikuti kegiatan sosialisasi dalam satu waktu.
“Keseharian warga kami ada yang di sawah, ladang, melaut, atau menjaga warung. Maka dari itu, sosialisasi tidak cukup sekali. Kami lanjutkan ke tahap kedua dan menggelarnya di tingkat RT serta RW agar jangkauannya lebih luas dan seluruh warga paham alurnya,” kata Gagan.
Menurutnya, sosialisasi dan simulasi yang dilakukan secara bertahap juga menjadi upaya untuk mengantisipasi kendala teknis maupun penumpukan antrean saat hari pemungutan suara.
Dengan semakin banyak warga yang memahami alur penggunaan perangkat, proses pemungutan suara diharapkan dapat berlangsung lebih tertib dan lancar.
“Tentunya dari pihak kecamatan dan panitia pelaksanaan Pilkades di Kecamatan Cidaun berharap dengan adanya sosialisasi ini, nanti masyarakat bisa mengetahui alur pelaksanaan Pilkades. Pun pelaksanaan Pilkades bisa berjalan dengan tertib, aman, dan lancar,” pungkas Gagan.***

