BRANDA.CO.ID – Memperingati Hari Santri Nasional 2026, Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Dzikir Al Fath Kota Sukabumi menggelar pelatihan khusus untuk 54 anggota satuan pengamanan (Satpam) asal Jakarta. Di bawah pimpinan Prof. Dr. KH. Fajar Laksana, puluhan tenaga keamanan dari berbagai perusahaan tersebut digembleng secara intensif dari sisi mental spiritual hingga ilmu kanuragan (bela diri).
Kegiatan bertajuk Pelatihan Bina Mental dan Kanuragan (Bintara) Security ini dibuka secara resmi di Aula Ponpes Modern Dzikir Al Fath, Kota Sukabumi, pada Kamis (22/10/2026). Pelatihan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Prof. Fajar Laksana menegaskan, pesantren tidak boleh hanya berfokus pada pendidikan agama di dalam pondok. Lembaga pesantren harus mampu menghadirkan karya nyata melalui dakwah dan pemberdayaan masyarakat, termasuk bagi kalangan profesional formal.
“Dalam konteks Hari Santri, pesantren harus bisa menunjukkan produk dan karya nyatanya yang sesuai dengan undang-undang. Pesantren memiliki tiga tugas utama, yaitu sebagai pendidik, dakwah, dan pemberdayaan,” ungkap Prof. Fajar seusai membuka acara.
Menurutnya, fungsi pemberdayaan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan sumber daya manusia agar menjadi lebih baik. Melalui program ini, pesantren membuktikan kemandiriannya dalam mendidik profesi lain di luar santri reguler, salah satunya profesi security.
“Pemberdayaan ini maknanya mendayakan. Membuat yang lemah menjadi kuat, yang belum bisa menjadi bisa, dan yang sudah baik menjadi lebih baik lagi,” tegasnya.
Dalam pelaksanaannya, Ponpes Modern Dzikir Al Fath bersinergi dengan PT Garda Utama Arthadarma, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan Satpam. Selama tiga hari, para peserta mendapatkan dua materi utama yang terintegrasi.
Materi mental spiritual diberikan melalui pendalaman ajaran agama Islam dan pembiasaan ibadah. Sementara itu, fisik dan ketangkasan mereka diasah melalui pelatihan kanuragan bersama Perguruan Silat (PS) Sang Maung Bodas. Kombinasi ini diharapkan dapat memperkuat karakter, spiritualitas, dan kedisiplinan para Satpam saat menjalankan tugas profesional mereka di lapangan.
Selain melibatkan pihak swasta, pembukaan kegiatan ini juga dihadiri oleh Direktur Bimas Islam Kementerian Agama RI. Kehadiran pihak kementerian menjadi wujud sinergi formal dalam mendukung kontribusi nyata pesantren terhadap pembangunan sumber daya manusia yang unggul di Indonesia.
Menutup keterangannya, Prof. Fajar mengingatkan kembali esensi Hari Santri yang berakar dari sejarah Resolusi Jihad dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejarah tersebut membuktikan bahwa pesantren memiliki peran strategis yang sangat besar.
“Resolusi Jihad menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi untuk pendidikan, tetapi juga sebagai penjaga NKRI dan penjaga agamanya. Momentum itulah yang kita laksanakan hari ini melalui aksi nyata,” pungkasnya.(Her)

