BRANDA.CO.ID– Festival lomba ketangkasan domba Garut kembali menggairahkan pelestarian budaya Sunda di Kota Sukabumi. Kegiatan yang diselenggarakan Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Kota Sukabumi tersebut berlangsung di Stadion Suryakencana, Kota Sukabumi, Minggu (25/10/2026).
Untuk pertama kalinya setelah sekitar 30 tahun tidak terselenggara, festival ini kembali digelar dengan meriah dan diikuti 175 peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat dan Banten.
Festival tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi seni ketangkasan domba Garut sekaligus mendorong sektor pariwisata dan meningkatkan aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Sukabumi.
Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menyambut positif penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, kegiatan seni dan budaya seperti ketangkasan domba Garut berpotensi menjadi daya tarik wisata yang dapat mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Dengan adanya festival seni ketangkasan domba ini, mudah-mudahan budaya Kota Sukabumi semakin bergairah. Semoga wisatawan dari beberapa daerah datang ke sini, berbelanja di Kota Sukabumi, dan meningkatkan UMKM Kota Sukabumi,” ujar Ayep Zaki.
Terkait kemungkinan festival tersebut menjadi agenda tahunan, Ayep mengatakan bahwa hal itu dapat dipertimbangkan berdasarkan usulan masyarakat. Pemerintah daerah, menurutnya, terbuka terhadap berbagai kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Terserah nanti usulannya seperti apa dari masyarakat. Kalau saya, yang penting semua yang positif, oke saja,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua panitia sekaligus Ketua HPDKI Kota Sukabumi, Haji Hilman Ajai, mengatakan bahwa festival ini menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali tradisi ketangkasan domba Garut di Kota Sukabumi.
“Untuk Kota Sukabumi, ini kebetulan yang pertama karena setelah 30 tahun tidak ada. Jadi, kita dianggap sebagai pionir,” kata pria yang akrab disapa Ajai tersebut.
Ia menjelaskan, antusiasme peserta sangat tinggi. Bahkan, jumlah peminat yang ingin mengikuti perlombaan melebihi kapasitas yang dapat ditampung panitia sehingga sebagian calon peserta tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut.
Sebanyak 175 peserta yang terdaftar berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Sukabumi, Bandung, Garut, serta wilayah Banten. Peserta dari Sukabumi sendiri diperkirakan mencapai hampir separuh dari total peserta.
Dalam perlombaan tersebut, panitia membagi peserta ke dalam tiga kelas berdasarkan bobot domba. Kelas A diperuntukkan bagi domba dengan bobot 75 kilogram ke atas, kelas B untuk bobot 65 hingga 75 kilogram, sedangkan kelas C untuk domba dengan bobot di bawah 65 kilogram.
Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga bertujuan melestarikan budaya Sunda atau ngamumule budaya Sunda, sekaligus mempererat silaturahmi antarpenggemar dan peternak domba dari berbagai daerah.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) HPDKI Jawa Barat, Muhammad Maulana, menuturkan bahwa festival tersebut terbuka untuk masyarakat secara gratis dan tidak berorientasi komersial. Menurutnya, tingginya antusiasme warga menunjukkan bahwa kegiatan budaya semacam ini masih diminati masyarakat.
“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Mereka membutuhkan hiburan, apalagi ini bagian dari budaya Sunda yang harus kita lestarikan. Kegiatan ini gratis dan nonkomersial, jadi siapa pun boleh menonton,” ujarnya.
Maulana menambahkan, panitia juga menyiapkan apresiasi bagi para peserta, khususnya mereka yang menunjukkan penampilan luar biasa dalam kompetisi. Namun, bentuk apresiasi tersebut masih dirahasiakan sebagai kejutan bagi para peserta.
Ia juga menyampaikan, terdapat peluang bagi festival ketangkasan domba Garut untuk kembali digelar pada masa mendatang, sejalan dengan harapan agar kegiatan tersebut dapat menjadi agenda rutin apabila penyelenggaraan perdana berjalan sukses, lancar, dan aman.
Melalui festival ini, seni ketangkasan domba Garut diharapkan kembali berkembang di Kota Sukabumi. Selain menjaga kelestarian budaya Sunda, kegiatan tersebut diharapkan menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menggerakkan UMKM dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat. (Her)

