BRANDA.CO.ID – Kwetiau, dengan bentuknya yang pipih dan lebar, telah menjadi salah satu hidangan mie paling populer dan dicintai di seluruh dunia. Dari warung kaki lima hingga restoran mewah, kuliner ini memikat banyak orang dengan berbagai variasi dan cita rasanya.
Namun tahukah Anda bagaimana kwetiau ini bermula, dan bagaimana ia bisa menyebar hingga mendunia seperti sekarang?
Sejarah kwetiau bermula dari daerah Fujian dan Guangdong di Tiongkok Selatan. Di wilayah ini, iklim yang sangat cocok untuk menanam padi mendorong masyarakat setempat untuk berkreasi, dengan bahan dasar beras.
Alhasil, berbagai jenis mie non-gandum pun lahir, salah satunya adalah kwetiau atau yang dalam bahasa Hokkien berarti “mie datar”, merujuk pada bentuknya yang pipih.
Awalnya, mie ini dikenal dengan nama char kway teow di negeri asalnya. Makanan ini bukanlah hidangan mewah, melainkan santapan sederhana yang menjadi bagian integral dari kehidupan para petani dan nelayan.
Mereka yang bekerja keras di siang hari seringkali merangkap sebagai penjual makanan di malam hari, menyajikan char kway teow untuk para buruh lokal. Hidangan ini dipandang sebagai makanan yang mengenyangkan, dan menyenangkan setelah seharian bekerja keras.
Dua etnis Tionghoa utama, Hokkian dan Tio Ciu, memiliki cara penyajian mie ini dengan berbeda. Etnis Hokkian umumnya menyajikan dengan bakso ikan, lachiong (sosis babi), dan telur bebek.
Sementara itu, etnis Tio Ciu lebih menyukai dengan tambahan daging sapi dan jeroannya. Seiring waktu, variasi mie ini pun dengan kuah pun mulai bermunculan.
Penyebarannya ke berbagai belahan dunia, terutama Asia Tenggara, tidak lepas dari peran migrasi masyarakat Tionghoa pada abad ke-19.
Para imigran Tionghoa membawa serta tradisi kuliner mereka, termasuk kwetiau, ke tempat-tempat baru yang mereka singgahi. Di setiap negara, mie ini mengalami akulturasi dan adaptasi dengan selera serta bahan-bahan lokal, menciptakan varian-varian baru yang khas.
Di Indonesia, kwetiau pertama kali diperkenalkan oleh para imigran Tionghoa. Awalnya, hidangan ini hanya bisa ditemukan di restoran kecil atau warung-warung Tionghoa.
Namun, seiring waktu, mie ini mulai populer dan berkembang menjadi menu favorit di berbagai tempat. Variasi seperti kwetiau goreng, siram, dan kuah sangat digemari.

