Temuan Arkeologis di Gunung Tangkil Ungkap Jejak Peradaban Megalitik Sukabumi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

 

BRANDA.CO.ID — Penelusuran arkeologis yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah peneliti lokal di kawasan Gunung Tangkil, Kabupaten Sukabumi, kembali mengungkap jejak penting sejarah masa lampau.

Sebuah arca batu yang telah rusak ditemukan di tengah hutan lebat, diduga berasal dari masa megalitik. Menariknya, arca ini memiliki kemiripan material dan bentuk dengan koleksi yang saat ini dipajang di Museum Prabu Siliwangi.

Pemilik Museum Prabu Siliwangi, Kh. Fajar Laksana menyampaikan, penemuan ini berawal dari observasi lapangan oleh peneliti Zubair Mas’ud, yang menemukan potongan arca saat menyusuri lereng berbatu di area yang tertutup semak belukar.

Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa komposisi batu arca tersebut identik dengan batuan pada arca-arca yang telah dikurasi di museum.

“Berdasarkan pengamatan awal, batuan arca di Museum Prabu Siliwangi cocok dengan lokasi temuan di Gunung Tangkil,” ujar Kyai Fajar Laksana dalam seminar arkeologi, Rabu (30/7/2025).

Kyai menjelaskan, Gunung Tangkil sendiri hingga kini belum ditetapkan sebagai situs budaya resmi. Lokasinya tersembunyi, alami, dan minim intervensi manusia. Namun, sejumlah temuan baru mengindikasikan bahwa kawasan ini memiliki nilai sejarah tinggi.

“Selain arca, tim juga menemukan batu menhir di Desa Tugu, serta jejak serupa di Gunung Karang — memperkuat dugaan bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat peradaban megalitik,”ujar pria yang juga merupakan Pimpinan Ponpes Dzikir Alfath Sukabumi itu.

Tak hanya peninggalan batu, sambung kyai, ratusan pecahan keramik dari abad ke-10 hingga ke-20 juga ditemukan oleh ahli keramik yang terlibat dalam riset tersebut.

“Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa Gunung Tangkil pernah menjadi bagian dari jalur perdagangan maritim antara Nusantara dan Tiongkok,”tambahnya.

Atas penemuan itu, BRIN telah mengusulkan agar fragmen keramik dan artefak lain yang ditemukan dapat dipajang di ruang pamer khusus di museum, guna mengedukasi masyarakat tentang sejarah perdagangan kuno di kawasan tersebut.

“Sebagai langkah lanjutan, BRIN merencanakan ekspedisi kembali ke lokasi pada awal September mendatang dengan membawa teknologi pemetaan canggih seperti drone dan LIDAR,”ungkapnya.

Teknologi ini, kata kyai, diharapkan dapat mengungkap keberadaan struktur batuan yang kemungkinan besar disusun secara arsitektural oleh manusia purba.

“Ketertarikan terhadap situs ini juga datang dari kalangan akademisi, termasuk Prof. Ali Akbar dari Universitas Indonesia, yang dikenal sebagai tokoh penting dalam riset situs Gunung Padang,”imbuhnya.

Ia menilai ada kemungkinan keterkaitan antara Gunung Tangkil dan situs Gunung Padang, serta menyambut baik wacana riset kolaboratif lanjutan.

“Meski belum berstatus sebagai situs resmi, Gunung Tangkil saat ini masih menjadi lokasi aktivitas budaya masyarakat setempat,”terangnya.

Beberapa warga diketahui rutin melakukan ritual adat di titik-titik tertentu, yang oleh para peneliti disebut sebagai bentuk budaya berlanjut—warisan leluhur yang masih hidup hingga kini.

“Awalnya kami hanya ingin memverifikasi asal koleksi museum, namun justru menemukan potensi situs megalitik yang baru. Harapannya, ini bisa menjadi cagar budaya di masa depan,”harapnya.

Para peneliti kini menyerukan kepada pemerintah daerah maupun pusat untuk segera meninjau status kawasan Gunung Tangkil.

“Penetapan sebagai situs cagar budaya dinilai penting demi menjaga warisan sejarah dan identitas budaya yang mulai tersingkap dari balik rimbunnya hutan Sukabumi,” tandasnya. (Her)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist