Sudah Ada Sejak Abad ke‑19, Ini Asal-usul Cenil si Cemilan Manis

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Ketika kita menelusuri lorong pasar tradisional di Jawa Timur, khususnya di wilayah seperti Blitar, muncul sebuah warna cerah di antara sejumlah jajanan pasar yang tak lekang oleh waktu, yaitu cenil.

Cenil si makanan kecil bertekstur kenyal dan rasa manis‑legit ini tak hanya sekadar camilan, tetapi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan kuliner lokal, yang keberadaannya telah tercatat sejak abad ke‑19.

Menurut catatan yang menjadi rujukan, cenil tercatat dalam naskah kuno Serat Centhini yang diterbitkan pada tahun 1814, menandakan bahwa jajanan ini sudah akrab sejak dua abad lebih lalu di kawasan masyarakat Jawa.

Konon, cenil berasal dari wilayah Pacitan di Jawa Timur, kemudian menyebar ke berbagai daerah termasuk Blitar. Di masa‑masa sulit pangan, ketika beras dan kebutuhan pokok lainnya mungkin sulit dijangkau, masyarakat memanfaatkan bahan alternatif seperti tepung ketan atau tepung sagu untuk mengolah makanan seperti cenil.

Dengan demikian, cemilan ini tumbuh bukan sekadar sebagai makanan ringan, tetapi juga sebagai simbol ketahanan pangan dan kreativitas kuliner masyarakat.

Proses pembuatannya pun terbilang sederhana namun memerlukan keterampilan agar tekstur hasilnya pas: kenyal namun tidak keras, lembut namun tidak terlalu lembek.

Bahan utama yang digunakan biasanya tepung ketan atau tepung tapioka, dicampur dengan air panas, garam, dan aroma daun pandan. Adonan dibentuk kecil‑kecil, sering kali lonjong atau bulat, kemudian direbus hingga matang.

Setelah itu, menjadi paduan yang khas ketika disajikan bersama parutan kelapa segar dan siraman gula merah cair yang manis.

Hal yang tampak sederhana ini ternyata menyimpan seni tersendiri: menjaga keuletan adonan, menjaga agar warna‑warni tetap cerah, serta menjaga agar gula merah tidak malah membuat tekstur menjadi lembek berlebihan atau terlalu empuk.

Keunikan cenil terletak pada kombinasi sederhana, rasa manis yang wangi dari gula merah, aroma pandan yang segar, gurih lembut dari kelapa parut, serta tekstur kenyal khas yang memberikan sensasi gigitan berbeda dari jajanan umum lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist