Asal Usul Hari Tasyrik dan Alasan Umat Islam Dilarang Berpuasa

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Hari Tasyrik merupakan salah satu momen penting dalam kalender Islam yang berlangsung setelah Hari Raya Idul Adha. Banyak umat Islam mengenal hari ini sebagai waktu untuk menyembelih hewan kurban, dan menikmati hidangan bersama keluarga.

Namun, tidak sedikit yang belum memahami asal-usul penamaan Hari Tasyrik, serta alasan mengapa umat Islam diharamkan berpuasa pada hari tersebut.

Berdasarkan penjelasan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Hari Tasyrik memiliki makna historis dan syariat yang sangat erat kaitannya dengan ibadah kurban dan syiar kebahagiaan umat Islam.

Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari-hari tersebut, umat Islam masih diperbolehkan melaksanakan penyembelihan hewan kurban.

Hari tersebut menjadi bagian dari rangkaian ibadah Idul Adha yang penuh makna spiritual dan sosial. Selain itu, hari ini juga dikenal sebagai hari untuk memperbanyak zikir, doa, dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Secara bahasa, kata “Tasyrik” berasal dari bahasa Arab tasyriq yang bermakna “menjemur sesuatu di bawah sinar matahari”, atau berkaitan dengan matahari terbit. Dalam literatur klasik Islam, terdapat beberapa pendapat ulama mengenai asal-usul penamaan Hari tersebut.

1. Tradisi Menjemur Daging Kurban

Pendapat pertama menyebutkan bahwa momen Tasyrik dinamakan demikian, karena pada masa dahulu umat Islam menjemur daging kurban agar tahan lama.

Pada zaman Rasulullah SAW belum terdapat teknologi pendingin seperti kulkas, sehingga daging diawetkan dengan cara dijemur menjadi dendeng.

Tradisi tersebut dilakukan karena jumlah daging kurban sangat melimpah, sehingga perlu disimpan untuk persediaan makanan beberapa waktu ke depan.

2. Penyembelihan Dilakukan Setelah Matahari Terbit

Pendapat kedua menjelaskan, bahwa istilah Tasyrik berkaitan dengan waktu pelaksanaan penyembelihan kurban yang dilakukan setelah matahari terbit. Hal ini berkaitan dengan kata syarraqa yang berhubungan dengan sinar matahari dan arah timur.

Lalu Mengapa Dilarang Berpuasa Saat Hari Tasyrik?

Dalam Islam, umat Muslim dilarang menjalankan puasa pada Hari Tasyrik. Larangan ini memiliki dasar hadis yang sahih, dan berkaitan dengan semangat kebersamaan serta rasa syukur atas nikmat Allah SWT.

Rasulullah SAW menyebut Hari tersebut sebagai hari makan dan minum bagi umat Islam. Oleh sebab itu, hari-hari tersebut dijadikan momen untuk menikmati hidangan kurban bersama keluarga dan masyarakat.

Dalam hadis riwayat An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda bahwa Hari Arafah, Idul Adha, dan Hari Tasyrik merupakan hari raya umat Islam dan menjadi hari untuk makan serta minum.

Meski demikian, terdapat pengecualian bagi jamaah haji yang tidak mendapatkan hewan hadyu (hewan kurban dalam ibadah haji). Mereka diperbolehkan berpuasa pada Hari Tasyrik sesuai ketentuan syariat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist