BRANDA.CO.ID – Berbeda dengan candi pada umumnya yang berfungsi sebagai tempat ibadah, Candi Ratu Boko diyakini sebagai kompleks keraton atau pusat pemerintahan pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Situs Candi Ratu Boko ini terletak di kawasan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 3 kilometer dari Candi Prambanan.
Selain memiliki nilai sejarah tinggi, lokasi Candi Ratu Boko juga menawarkan panorama alam yang indah dari atas bukit, sehingga menjadi destinasi wisata favorit di Yogyakarta.
Sejarah Candi ini diperkirakan bermula pada abad ke-8 Masehi. Berdasarkan temuan arkeologis dan prasasti yang ditemukan di kawasan tersebut, kompleks ini dibangun pada masa Wangsa Syailendra yang beragama Buddha.
Namun, seiring perkembangan politik dan kekuasaan di Jawa Tengah, kawasan ini kemudian berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram Hindu sehingga terlihat perpaduan unsur Buddha dan Hindu dalam berbagai struktur bangunannya.
Nama “Ratu Boko” sendiri berasal dari legenda rakyat, yang mengisahkan seorang raja bernama Ratu Boko sebagai ayah dari Roro Jonggrang. Meski kisah tersebut terkenal di masyarakat, para sejarawan lebih banyak mengaitkan situs ini dengan pusat pemerintahan atau tempat tinggal para bangsawan pada masa Mataram Kuno.
Salah satu bukti penting yang mengungkap sejarah Ratu Boko adalah ditemukannya Prasasti Abhayagiriwihara yang bertahun 792 Masehi. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Pranagari, dan menunjukkan pengaruh kuat agama Buddha pada masa pembangunannya.
Dalam prasasti tersebut disebutkan nama Raja Tejapurnama Panangkarana yang diyakini sebagai Rakai Panangkaran, salah satu penguasa penting Wangsa Syailendra. Ia memerintahkan pembangunan Abhayagiriwihara yang dapat diartikan sebagai “biara di bukit yang damai”.
Nama tersebut berasal dari kata abhaya yang berarti tanpa rasa takut atau damai, serta giri yang berarti bukit atau gunung.
Pada masa berikutnya, kompleks ini mengalami perubahan fungsi dan dikenal sebagai Kraton Walaing pada era pemerintahan Rakai Walaing Pu Kombayoni sekitar tahun 898–908 Masehi.
Arsitektur dan Bangunan di Kompleks Ratu Boko
1. Gerbang Utama
Gerbang utama menjadi ikon paling terkenal dari Situs Ratu Boko. Terdiri atas gerbang luar dan gerbang dalam dengan gapura paduraksa yang megah, area ini sering dijadikan lokasi favorit wisatawan untuk berfoto.
2. Candi Batukapur
Bangunan ini memiliki pondasi yang terbuat dari batu kapur dan menjadi salah satu struktur penting di kawasan situs.
3. Candi Pembakaran
Candi ini berbentuk teras tanah berundak dan diduga memiliki fungsi ritual tertentu pada masa lampau.
4. Paseban dan Pendapa
Paseban merupakan tempat menghadap raja yang dibangun dari batu andesit. Sementara itu, Pendapa diduga berfungsi sebagai ruang pertemuan atau area penerimaan tamu kerajaan.
5. Keputren
Area Keputren diyakini sebagai tempat tinggal para putri kerajaan. Di kawasan ini ditemukan beberapa kolam berbentuk persegi dan bundar yang menambah nilai arsitektural situs.
6. Gua Lanang dan Gua Wadon
Di lereng bukit sekitar kompleks terdapat dua gua yang dikenal sebagai Gua Lanang dan Gua Wadon. Kedua gua ini dipercaya pernah digunakan sebagai tempat bertapa atau aktivitas spiritual.

