BRANDA.CO.ID – Starbucks mengambil langkah tidak biasa dengan menutup seluruh gerainya di Korea Selatan pada pada 22 Juni pukul 15.00, sebagai respons atas kontroversi promosi yang menuai kritik publik.
Diketahui, penutupan ini dilakukan sebagai bagian dari program pelatihan sejarah dan sensitivitas sosial bagi seluruh karyawan Starbucks di Korea Selatan. Langkah ini diambil setelah munculnya kontroversi promosi yang dinilai tidak sensitif terhadap isu sejarah negara tersebut.
Kontroversi Starbucks di Korea Selatan bermula dari kampanye promosi bertajuk “Tank Day”, yang menawarkan diskon untuk produk tumbler edisi tertentu. Namun, promosi tersebut justru memicu kemarahan publik.
Banyak pihak menilai kampanye tersebut merujuk pada peristiwa sejarah sensitif di Korea Selatan, yaitu Gwangju Uprising, ketika penggunaan tank oleh militer pada masa lalu meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat. Akibatnya, promosi tersebut memicu boikot pelanggan serta kritik keras dari masyarakat dan politisi setempat.
Sebagai respons atas kontroversi tersebut, Starbucks bersama mitranya di Korea Selatan memutuskan untuk menutup seluruh gerai pada waktu tertentu, mengadakan pelatihan sejarah dan sensitivitas sosial, dan melibatkan eksekutif dan manajer dalam pelatihan khusus.
Kantor pusat global Starbucks yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat, juga telah mengirimkan surat permohonan maaf resmi secara langsung kepada Yayasan 18 Mei selaku perwakilan dari keluarga korban Gwangju. Walaupun hasil investigasi internal tidak menemukan adanya unsur kesengajaan, kasus ini telah bergeser ke ranah hukum pidana.
“Kepolisian Seoul kini telah resmi mendaftarkan Chung Yong-jin beserta mantan direktur utama Starbucks Korea sebagai tersangka kriminal dalam proses penyelidikan yang masih berjalan hingga saat ini,” tulis laporan investigasi kepolisian setempat mengenai status hukum para petinggi korporasi tersebut.
Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman karyawan terkait konteks budaya dan sejarah agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Insiden ini menunjukkan bahwa kesalahan dalam strategi promosi dapat berdampak besar pada reputasi global sebuah merek.
Starbucks diketahui beberapa kali menghadapi tekanan bisnis di berbagai negara, termasuk penutupan gerai dan restrukturisasi operasional di wilayah lain akibat performa bisnis yang menurun dan penyesuaian strategi perusahaan.
Namun, kasus di Korea Selatan ini lebih menekankan pada aspek sensitivitas budaya dan komunikasi pemasaran yang tidak tepat.

