BRANDA.CO.ID – Kisah seorang guru honorer bernama Bu Ijah menjadi perbincangan hangat di media sosial, setelah mengungkapkan keputusan untuk mengakhiri pengabdiannya sebagai tenaga pendidik. Setelah mengajar selama 40 tahun, Bu Ijah mengaku hanya menerima gaji terakhir sebesar Rp414 ribu per bulan.
Pengakuan Bu Ijah tersebut disampaikan melalui video yang diunggah di akun TikTok miliknya, dan kemudian viral di berbagai platform media sosial. Banyak warganet mengaku terharu sekaligus menyoroti kesejahteraan guru honorer di Indonesia.
Dalam video yang beredar, Bu Ijah memperlihatkan amplop berisi gaji terakhir yang diterimanya sebelum memutuskan berhenti mengajar sebagai guru honorer.
Ia menyampaikan bahwa dirinya mengakhiri masa pengabdian sebagai guru pada Juni 2026 setelah mengajar selama empat dekade. Nominal gaji sebesar Rp414 ribu yang diterimanya, kemudian menjadi perhatian publik karena dinilai tidak sebanding dengan lamanya masa pengabdian.
Bu Ijah juga menegaskan bahwa video tersebut dibuat bukan untuk mencari belas kasihan, melainkan sekadar menyampaikan fakta mengenai pengalamannya sebagai guru honorer.
Setelah tidak lagi mengajar, Bu Ijah mengungkapkan dirinya mulai menjalankan usaha berjualan sebagai sumber penghasilan baru. Keputusan tersebut menjadi bagian dari upayanya untuk tetap mandiri setelah mengakhiri karier panjang di dunia pendidikan.
Unggahan Bu Ijah dibanjiri ribuan komentar dari warganet, yang memberikan doa serta apresiasi atas dedikasinya selama puluhan tahun mendidik generasi bangsa.
Sebagian warganet menilai kesejahteraan guru honorer masih perlu mendapat perhatian lebih. Ada pula yang mempertanyakan status kepegawaian Bu Ijah dan alasan dirinya tidak pernah diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN).
Menanggapi pertanyaan tersebut, Bu Ijah menjelaskan bahwa ia mulai mengajar pada usia 23 tahun, berawal dengan latar pendidikan D2 sebelum melanjutkan hingga S1. Kini, di usia 63 tahun, ia juga aktif berkarya dan telah menerbitkan novel berjudul Lentera Putih.
Viralnya kisah Bu Ijah memunculkan kembali diskusi publik mengenai kesejahteraan guru honorer di Indonesia. Banyak pihak menilai dedikasi guru yang telah mengabdi selama puluhan tahun seharusnya diimbangi dengan penghargaan dan kesejahteraan yang lebih baik.
Meski demikian, kisah Bu Ijah juga menjadi inspirasi karena menunjukkan semangat pengabdian yang tetap dijalani selama bertahun-tahun di dunia pendidikan.

