Memahami Filosofi Hidup Urang Sunda: Ngarumput di Handap, Ngawangun di Luhur

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.IDSebagai bagian tak terpisahkan dari identitas urang Sunda, falsafah hidup selalu menjiwai setiap langkah. Ada sebuah adagium kuno yang begitu melekat, yakni “Ngarumput di Handap, Ngawangun di Luhur”.

Ini bukan sekadar rangkaian kata bagi urang Sunda, melainkan cerminan kebijaksanaan leluhur yang mengedepankan kerendahan hati dalam bersikap, sekaligus kegigihan dalam berkarya dan mencapai kemajuan.

Filosofi ini, bagi urang Sunda, menjadi kompas moral dalam menjalani kehidupan yang harmonis, baik dengan sesama maupun dengan alam semesta.

Secara harfiah, “Ngarumput di Handap” berarti “merumput di bawah” atau “menyemak di bawah”. Frasa ini mengandung makna filosofis yang dalam tentang kerendahan hati, kesederhanaan, dan tidak menonjolkan diri.

Layaknya rumput yang tumbuh di tanah, ia tidak sombong, tidak mengklaim diri paling tinggi, dan senantiasa beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, “ngarumput di handap” mengajarkan kita untuk tidak sombong, merendahkan hati, mawas diri atau introspeksi, dan fleksibel adaptif.

Sementara itu, “Ngawangun di Luhur” berarti “membangun di atas” atau membangun kebaikan, yang juga diartikan sebagai kemajuan yang tinggi.

Ini adalah sisi lain dari filosofi tersebut, yang merujuk pada etos kerja keras, kreativitas, dan orientasi pada pencapaian yang bermanfaat.

Setelah memiliki fondasi kerendahan hati, seseorang diharapkan untuk terus berkarya dan menghasilkan sesuatu yang positif.

“Ngawangun di luhur” mendorong kita untuk berkarya nyata dan memberikan dampak positif bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bahkan bangsa. Selain itu, berpikir maju, membangun kemajuan, serta mencapai kualitas yang tinggi dalam setiap usaha.

Filosofi “Ngarumput di Handap, Ngawangun di Luhur” ini, mengajarkan sebuah keseimbangan yang harmonis antara sikap dan tindakan. Kerendahan hati bukanlah berarti tidak berambisi atau pasif, melainkan menjadi fondasi kuat untuk membangun dan meraih prestasi setinggi mungkin.

Sebaliknya, ambisi untuk mencapai kemajuan harus selalu dilandasi dengan kesadaran diri dan sikap rendah hati, agar tidak menjadi pribadi yang arogan atau merugikan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist