Mengungkap Makna dan Filosofi di Balik Tradisi Lebaran Ketupat

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Lebaran Ketupat merupakan bagian penting dari tradisi Muslim di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, yang dirayakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri, tepatnya pada tanggal 8 Syawal setiap tahunnya.

Tradisi Lebaran Ketupat ini lahir dari paduan budaya lokal dan ajaran Islam yang kuat, dan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menikmati hidangan khas setelah Ramadan.

Asal-usul Lebaran Ketupat tidak bisa dilepaskan dari peran Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Walisongo yang terkenal dalam sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Dalam upaya memperkenalkan nilai-nilai Islam ke masyarakat Jawa, Sunan Kalijaga memadukan praktik keagamaan dengan tradisi lokal yang sudah ada.

Salah satunya adalah mengajak umat Islam untuk menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal, setelah Idul Fitri sebagai bentuk rasa syukur dan penguatan spiritual.

Tradisi puasa Syawal ini, yang dikenal dalam hadits Nabi Muhammad SAW, kemudian ditutup dengan perayaan yang lebih santai namun sarat makna, yaitu makan ketupat bersama sanak saudara dan tetangga.

Secara bahasa, kata “ketupat” atau dalam bahasa Jawa disebut “kupat” membawa makna filosofis yang mendalam. Istilah ini merupakan singkatan dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.

Pengakuan ini mencerminkan ajakan bagi setiap individu untuk saling meminta maaf, dan saling memaafkan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

Tradisi ini biasanya diwujudkan lewat prosesi sungkeman, di mana anak bersimpuh di hadapan orang tua atau kerabat untuk memohon maaf serta restu, simbol penghormatan kepada mereka yang lebih tua dan ikhtiar membersihkan hubungan sosial.

Lebih jauh lagi, terdapat interpretasi yang dikenal sebagai “laku papat”, empat unsur yang dirangkum dari budaya Jawa: lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Kata “lebaran” menandai selesainya masa puasa Ramadan dan kesiapan merayakan kemenangan spiritual, sementara “luberan” mencerminkan kelimpahan kebaikan yang harus dibagikan kepada sesama melalui sedekah dan zakat, sehingga harta yang dimiliki menjadi bersih dan berkah.

“Leburan” melambangkan proses memaafkan satu sama lain sehingga semua kesalahan bisa terhapuskan, sedangkan “laburan” menyiratkan kembali jernihnya hati seseorang setelah melalui momen saling memaafkan dan introspeksi diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist