Kemilau Batu Bercahaya Warnai HUT ke-112, Sukabumi Dorong Akik Jadi Ikon Wisata dan Ekonomi

Wakil Wali Kota Sukabumi Bobbi Maulana melihat stand pameran batu akik di Gedung Juang 45. (Foto:Her)
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID — Kilau batu akik memancar dari setiap sudut Gedung Djuang, Minggu (5/4/2026). Ratusan koleksi batu dengan warna, motif, dan karakter unik dipamerkan dalam ajang Kemilau Batu Bercahaya Piala Walikota Sukabumi, yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Ulang Tahun Kota Sukabumi ke-112.

Suasana hangat dan antusias terasa sejak pagi, mempertemukan para pecinta batu dari dalam maupun luar daerah.

Pameran ini bukan sekadar perayaan, melainkan penanda kebangkitan kembali pamor batu akik sebagai warisan alam yang bernilai seni dan ekonomi.

Di tengah gemerlapnya batu-batu bercahaya, Sukabumi seolah menegaskan identitas bahwa dari perut bumi, lahir potensi besar yang siap bersinar hingga ke panggung dunia.

Acara ini resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, yang hadir mewakili wali kota.

Ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai tidak hanya meriah, tetapi juga sarat nilai ekonomi dan edukasi.

“Ini yang pertama dan luar biasa. Kita bisa melihat batu-batu hasil alam yang punya nilai tinggi ketika dilestarikan, dirawat, dan dijaga. Dari situ muncul pengetahuan sekaligus peluang untuk menggerakkan roda ekonomi,” ujarnya.

Sedikitnya 500 batu akik ikut dilombakan dalam pameran ini, terbagi dalam berbagai kategori. Motif yang ditampilkan pun beragam—mulai dari pemandangan alam, siluet, bentuk hewan, hingga corak abstrak yang menyerupai karya seni.

Menariknya, seluruh motif tersebut terbentuk secara alami tanpa rekayasa.

Tak hanya menjadi ajang pamer, kegiatan ini juga menjadi ruang bertemunya puluhan komunitas pecinta batu akik. Mereka saling bertukar informasi, pengalaman, hingga peluang pasar, terutama di tengah tren digitalisasi yang semakin berkembang.

Bobby menekankan pentingnya adaptasi teknologi dalam memasarkan produk lokal. Menurutnya, para perajin batu akik harus mulai memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar, bahkan hingga mancanegara.

“Sekarang sudah masuk era transformasi digital. Teman-teman bisa menjual melalui teknologi. Bahkan sudah ada yang tembus ke pasar Eropa dan Amerika. Ini potensi besar yang harus terus didorong,” katanya.

Ia juga berharap Kota Sukabumi dapat memiliki identitas khas melalui batu akik unggulan seperti blue opal, kecubung terong, hingga pancawarna. Menurutnya, batu-batu tersebut berpeluang menjadi cinderamata khas bagi wisatawan, terutama saat momentum libur panjang seperti Hari Raya Idul Fitri yang mencatat lonjakan kunjungan hingga jutaan orang.

“Ke depan, batu khas Sukabumi bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ini bukan hanya soal hobi, tapi juga potensi ekonomi kreatif,” tambahnya.

Dalam mendukung pengembangan sektor ini, pemerintah daerah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Mulai dari penyediaan fasilitas pameran seperti Gedung Djuang, kolaborasi lintas instansi termasuk Diskumindag dan Dekranasda, hingga membuka peluang pendanaan dan kemitraan dengan sponsor.

“Tak hanya itu, kita bisa menghadirkan tokoh nasional seperti Narji dan Cak Lontong juga menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan daya tarik acara di masa mendatang,”tandasnya. (Her)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist