Musim Kemarau 2026 Resmi Dimulai di Sejumlah Wilayah, BMKG Ungkap Risiko El Nino

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau 2026 sejak April.

Namun, peralihan musim kemarau ini tidak terjadi secara serempak di seluruh daerah, sehingga masih ada wilayah yang mengalami hujan dengan intensitas cukup tinggi.

Berdasarkan informasi BMKG, awal musim kemarau tahun ini cenderung dimulai dari wilayah Indonesia bagian timur, seperti NTT. Sementara itu, sejumlah wilayah lain termasuk Pulau Jawa masih berada dalam fase pancaroba atau masa peralihan dari musim hujan ke kemarau.

Berikut daftar wilayah yang telah memasuki musim kemarau:

  • Sebagian kecil Aceh
  • Sebagian kecil Sumatera Utara
  • Sebagian kecil Riau
  • Sebagian Sulawesi Tengah
  • Sebagian kecil Gorontalo
  • Sebagian Sulawesi Barat
  • Sebagian Sulawesi Selatan
  • Sebagian Sulawesi Tenggara
  • Sebagian kecil Nusa Tenggara Barat (NTB)
  • Sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT)
  • Sebagian kecil Maluku
  • Sebagian kecil Papua Barat

Fenomena ini membuat kondisi cuaca di berbagai daerah menjadi tidak menentu. Di satu sisi, beberapa wilayah sudah mengalami hari tanpa hujan yang lebih panjang sebagai tanda kemarau, namun di sisi lain masih terjadi hujan lebat disertai angin kencang akibat dinamika atmosfer yang belum stabil.

BMKG juga menyebut bahwa musim kemarau 2026 dipengaruhi oleh kondisi global seperti fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO) yang saat ini masih berada pada fase netral.

Meski demikian, terdapat potensi ENSO berkembang menuju fase El Nino pada pertengahan tahun, yang dapat menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering dan panas dari biasanya.

“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia,” jelas Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.

Secara umum, wilayah yang mulai lebih dulu memasuki musim kemarau berada di kawasan timur Indonesia, kemudian diikuti sebagian wilayah Jawa dan Bali secara bertahap.

Namun, karena Indonesia memiliki pola iklim yang kompleks, waktu datangnya musim kemarau bisa berbeda di setiap daerah.

Selain itu, BMKG menjelaskan bahwa hujan yang masih terjadi di awal musim kemarau merupakan hal yang wajar. Hal ini disebabkan oleh aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi angin, serta fenomena seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif di beberapa wilayah Indonesia.

Ke depan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem, baik hujan lebat maupun potensi kekeringan saat puncak kemarau nanti.

Terlebih jika El Nino benar-benar terjadi, dampaknya bisa meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, serta krisis air di sejumlah wilayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist