BRANDA.CO.ID – Suasana riuh tak melulu identik dengan teriakan tuntutan. Di kawasan Santa Sea Waterpark, Kabupaten Sukabumi, Jumat pagi itu (1/5/2026), gema Hari Buruh Internasional justru terdengar dalam tawa, percakapan santai, dan kebersamaan yang mengalir hangat di antara para pekerja.
Di bawah langit yang cerah, ratusan buruh yang tergabung dalam DPC Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI) Kabupaten Sukabumi memilih merayakan May Day dengan cara yang berbeda: berkumpul bersama keluarga, melepas penat, sekaligus berdialog langsung dengan pemerintah daerah.
Di tengah keramaian itu, Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas hadir tanpa sekat. Ia berbaur, menyapa satu per satu peserta, dan sesekali terlibat obrolan ringan dengan para buruh yang memanfaatkan momentum ini bukan hanya untuk rekreasi, tetapi juga menyampaikan harapan.
“Ini luar biasa. Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini,” ujarnya, menatap suasana yang lebih menyerupai reuni keluarga besar ketimbang peringatan yang penuh ketegangan.
Bagi Andreas, pendekatan seperti ini membuka ruang komunikasi yang lebih cair antara pemerintah dan pekerja. Dalam suasana santai, ia menyampaikan sejumlah hal strategis, terutama terkait upaya mendorong investasi di Kabupaten Sukabumi.
“Kami telah menyiapkan langkah dan strategi agar investasi banyak masuk Kabupaten Sukabumi,” ucapnya.
Ia menekankan, penguatan sektor pariwisata, pertanian, dan industri menjadi kunci. Namun, menurutnya, semua itu tak akan berjalan tanpa kolaborasi. Iklim investasi yang sehat dan nyaman, kata dia, hanya bisa terwujud jika seluruh elemen, pemerintah, pengusaha, dan buruh, bergerak bersama.
Sementara itu, Ketua DPC K SARBUMUSI Kabupaten Sukabumi, Usman Abdul Faqih, menyebut perayaan kali ini memang dirancang berbeda. Alih-alih turun ke jalan, pihaknya mengajak para anggota untuk menikmati momen kebersamaan.
“Selain kegiatan ini, kami pun telah mengadakan sejumlah rangkaian kegiatan, di antaranya turnamen futsal hingga lomba karya tulis,” ungkapnya.
Bagi Usman, May Day bukan hanya soal perjuangan di ruang publik, tetapi juga tentang memperkuat solidaritas di antara sesama buruh. Lewat pendekatan yang lebih humanis, ia berharap hubungan industrial di Sukabumi bisa tumbuh lebih harmonis.
Di sela gemericik air dan canda anak-anak yang bermain, pesan tentang kesejahteraan, kerja sama, dan masa depan daerah justru terasa lebih dekat. May Day di Sukabumi hari itu menjadi pengingat sederhana: perjuangan buruh juga bisa dirayakan dengan kebersamaan.

