BRANDA.CO.ID – Pada musim kemarau ini banyak warga mengeluhkan nyamuk yang terasa makin banyak, terutama saat malam hari. Keluhan tersebut ramai muncul di media sosial, termasuk dari warga di wilayah Jabodetabek.
Peneliti entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Awit Suwito, menjelaskan ada sejumlah faktor yang membuat populasi nyamuk terasa meningkat, terutama ketika memasuki akhir musim kemarau hingga awal musim hujan.
Salah satu faktor yang disebut peneliti BRIN adalah suhu lingkungan yang meningkat ketika musim kemarau. Kondisi suhu yang lebih tinggi dapat membuat waktu siklus hidup nyamuk menjadi lebih pendek.
“Mengapa populasi nyamuk pada musim kemarau (lebih tepatnya akhir kemarau dan awal musim hujan) rasanya lebih meningkat? Ini berkaitan dengan beberapa faktor. Faktor pertama, suhu lingkungan yang meningkat menjadikan waktu siklus hidup nyamuk semakin pendek,” kata Awit
Artinya, nyamuk bisa menyelesaikan tahapan hidupnya dalam waktu yang lebih singkat. Kondisi ini kemudian dapat ikut membuat perkembangan populasinya terasa lebih cepat.
Dalam penjelasannya, Awit menyebut peningkatan populasi nyamuk lebih tepat dikaitkan dengan periode akhir kemarau dan awal musim hujan. Jadi, bukan berarti setiap kali musim kemarau datang jumlah nyamuk otomatis langsung meningkat. Ada kondisi lingkungan tertentu yang membuat nyamuk lebih mudah berkembang.
Kajian yang diterbitkan BRIN juga menjelaskan bahwa suhu memang berkaitan erat dengan perkembangan nyamuk. Suhu dapat memengaruhi metabolisme, pertumbuhan, perkembangan, hingga populasi nyamuk.
Genangan Air di Luar Rumah Berkurang
Saat musim kemarau berlangsung, salah satu perubahan yang paling mudah terlihat adalah berkurangnya genangan air di lingkungan luar rumah. Padahal, genangan air merupakan salah satu tempat yang bisa menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.
Ketika sumber air di luar rumah semakin sedikit, nyamuk tidak serta-merta menghilang. Nyamuk justru bisa lebih banyak ditemukan di tempat-tempat yang masih menyediakan air, termasuk di sekitar rumah.
Kondisi inilah yang membuat keberadaan nyamuk terasa lebih mengganggu. Area rumah yang sebelumnya mungkin jarang diperhatikan justru bisa menjadi tempat yang cocok bagi nyamuk untuk berkembang.
Aedes aegypti Bisa Berkumpul di Sekitar Rumah
Salah satu jenis yang menjadi perhatian adalah Aedes aegypti. Nyamuk ini lebih menyukai habitat air yang jernih.
Menurut Awit, ketika genangan air di luar rumah berkurang, tempat-tempat yang masih memiliki air di dalam maupun sekitar rumah dapat menjadi lokasi yang lebih penting bagi nyamuk. Contohnya seperti bak mandi, kolam, tempat minum hewan peliharaan dan wadah lain yang menampung air.
Karena itu, rumah yang terlihat bersih sekalipun tetap perlu memperhatikan tempat-tempat penampungan air. Wadah kecil yang jarang diperiksa juga bisa menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung siklus hidup nyamuk.
BRIN sendiri menekankan pentingnya pemantauan tempat penampungan air sebagai bagian dari pengendalian nyamuk. Pemeriksaan jentik dapat dilakukan pada berbagai wadah air di lingkungan rumah.
Telur Nyamuk Bisa Bertahan Saat Kondisi Kering
Ada satu hal yang membuat fenomena ini semakin menarik. Telur nyamuk ternyata mampu bertahan dalam kondisi kering.
Jadi, berkurangnya air saat kemarau bukan berarti seluruh siklus nyamuk langsung berhenti. Telur yang sudah berada di tempat tertentu dapat tetap bertahan hingga kondisi lingkungan kembali mendukung.
Ketika musim hujan mulai datang dan genangan air bermunculan, telur tersebut bisa melanjutkan siklus hidupnya. Akibatnya, kemunculan nyamuk baru dapat terasa terjadi dalam jumlah yang lebih banyak dan hampir bersamaan.
Inilah salah satu alasan kenapa masyarakat bisa merasa jumlah nyamuk tiba-tiba meningkat ketika musim mulai berubah dari kemarau menuju penghujan.

