Dari Kesucian Diri Menuju Ketakwaan Disdukcapil Kabupaten Sukabumi Gelar Majelis Talim Aparatur

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Dalam rangka meningkatkan kualitas keimanan, ketakwaan, dan pemahaman keagamaan aparatur, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sukabumi kembali menyelenggarakan kegiatan Majelis Ta’lim Aparatur yang dilaksanakan pada Rabu, 2 September 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan mubalig Ust. Hasan Al Asy’ri, yang menyampaikan tausiyah tentang fikih thaharah atau tata cara bersuci, khususnya mengenai hadas besar dan ketentuan mandi wajib.

Dalam tausyiahnya, Ust. Hasan Al Asy’ri mengajak seluruh aparatur untuk senantiasa mensyukuri rahmat dan nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta meningkatkan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa kebersihan dan kesucian merupakan bagian penting dalam pelaksanaan ibadah. Seorang muslim tidak hanya dituntut menjaga kebersihan secara lahiriah, tetapi juga memahami ketentuan syariat mengenai hadas dan cara menyucikannya.

Hal tersebut sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Menurut Ust. Hasan Al Asy’ri,, memahami persoalan bersuci menjadi penting karena kesucian merupakan salah satu syarat yang berkaitan erat dengan sahnya ibadah, terutama salat. Dalam kajian fikih, terdapat perbedaan antara hadas kecil dan hadas besar. Hadas kecil disucikan dengan berwudu, sedangkan hadas besar disucikan dengan mandi wajib sesuai dengan ketentuan syariat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan sejumlah keadaan yang menyebabkan seseorang diwajibkan mandi, di antaranya karena janabah, keluarnya mani dalam kondisi tertentu, serta beberapa keadaan yang berkaitan dengan perempuan seperti selesai haid, nifas, dan melahirkan.

Ust. Hasan Al Asy’ri, juga mengingatkan bahwa memahami hukum agama tidak cukup hanya berdasarkan kebiasaan atau perkiraan. Setiap pelaksanaan ibadah hendaknya dilandasi ilmu dan merujuk kepada sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti Al-Qur’an, hadis, serta penjelasan para ulama.

“Kalau kita beribadah, harus disertai ilmu. Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi tidak mengetahui tata cara dan ketentuannya,” jelasnya.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dari kajian MTA kali ini. Para aparatur diajak untuk terus meningkatkan pengetahuan keagamaan agar setiap amal yang dilakukan dapat dilaksanakan dengan benar dan sesuai tuntunan syariat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Selain membahas ketentuan mandi wajib, kajian juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan kehidupan keluarga. Menurut Ust. Hasan Al Asy’ri, kehidupan rumah tangga perlu dibangun dengan kasih sayang, saling menghormati, kesabaran, serta pemahaman terhadap hak dan kewajiban masing-masing.

Ia mengingatkan bahwa keluarga merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Keharmonisan rumah tangga tidak hanya dibangun melalui pemenuhan kebutuhan lahiriah, tetapi juga melalui komunikasi, kesetiaan, perhatian, dan kesediaan untuk saling mendampingi dalam menjalankan kebaikan.

“Kalau ingin rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah, suami dan istri harus saling menyayangi, menghormati, serta saling membantu dalam kebaikan,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ust. Hasan Al Asy’ri juga menyampaikan penghormatan terhadap perjuangan seorang ibu. Perempuan yang menjalani proses kehamilan dan persalinan, menurutnya, merupakan sosok yang memiliki perjuangan besar sehingga sudah selayaknya mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan penghormatan dari keluarga.

Pembahasan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai agama tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi juga dengan hubungan antarsesama manusia, terutama dalam keluarga dan lingkungan kerja.

Prinsip saling membantu dalam kebaikan sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Nilai tersebut relevan dengan kehidupan aparatur sipil negara yang dalam menjalankan tugas dituntut untuk bekerja sama, saling mendukung, menjaga integritas, serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Menjelang akhir kegiatan, Ust. Hasan Al Asy’ri berpesan agar seluruh aparatur Disdukcapil Kabupaten Sukabumi senantiasa menjadikan ilmu sebagai landasan dalam beribadah dan bekerja. Menurutnya, kualitas ibadah dan pengabdian kepada masyarakat akan semakin baik apabila dilakukan dengan ilmu, keikhlasan, dan niat mengharap ridha Allah SWT.

Kegiatan Majelis Ta’lim Aparatur Disdukcapil Kabupaten Sukabumi ditutup dengan doa kafaratul majelis serta harapan agar ilmu yang diperoleh dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun saat menjalankan tugas sebagai aparatur negara yang melayani masyarakat.

Melalui kegiatan pembinaan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin ini, Disdukcapil Kabupaten Sukabumi terus berupaya membangun budaya kerja yang religius, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan publik yang profesional serta penuh keberkahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist