PVMBG Pastikan Erupsi Anak Krakatau Tak Picu Tsunami, Warga Diminta Tenang

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali menjadi perhatian setelah mengalami erupsi. Kondisi ini sempat memunculkan kekhawatiran masyarakat, terutama warga di kawasan pesisir Banten dan Lampung, soal kemungkinan terjadinya tsunami.

Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini tidak berpotensi memicu tsunami. Kepastian tersebut disampaikan setelah PVMBG melakukan evaluasi terhadap kondisi gunung api.

“Untuk tsunami, hasil evaluasi kami, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi yang dapat memicu tsunami,” kata Rita Kepala PVMBG Badan Geologi Rita Susilawati.

Rita Susilawati menjelaskan, salah satu hal yang menjadi dasar evaluasi adalah kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau, yang terbentuk kembali setelah peristiwa erupsi pada 22 Desember 2018.

Menurut hasil evaluasi PVMBG, tubuh Anak Krakatau yang terbentuk setelah erupsi tersebut masih relatif kecil. Karena itu, kondisi gunung saat ini dinilai tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang bisa memicu tsunami.

Penjelasan ini penting karena erupsi Anak Krakatau memang sering dikaitkan dengan peristiwa tsunami pada 2018. Saat itu, sebagian tubuh gunung mengalami longsoran ke laut dan menyebabkan tsunami di wilayah pesisir Banten serta Lampung.

Meski begitu, kondisi aktivitas vulkanik Anak Krakatau tetap menjadi perhatian dan terus dipantau oleh pihak berwenang.

Berdasarkan laporan pengamatan, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut masih berlangsung hingga laporan pengamatan pada Sabtu, 5 September 2026.

Erupsi kali ini diinterpretasikan sebagai lava fountain atau lava air mancur. Fenomena tersebut ditandai dengan semburan material pijar dari kawah dan dapat menghasilkan aliran lava.

Suara dentuman dan gemuruh juga terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Pasauran. Dalam pengamatan hingga pukul 06.00 WIB, tercatat satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi mencapai 21.600 detik.

CCTV pengamatan di lapangan juga dilaporkan mengalami gangguan karena terkena lontaran material erupsi.

Di tengah aktivitas tersebut, status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III atau Siaga. Status ini sudah berlaku sejak 2 Juli 2026.

Karena itu, masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diminta tetap mengikuti rekomendasi keselamatan dari pihak berwenang. Salah satu imbauannya adalah tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Imbauan tersebut tetap penting meskipun PVMBG memastikan aktivitas erupsi saat ini tidak berpotensi memicu tsunami. Risiko bahaya langsung dari aktivitas gunung api, seperti lontaran material, tetap perlu diwaspadai.

Kekhawatiran soal tsunami setelah melihat aktivitas Anak Krakatau sebenarnya cukup bisa dipahami. Apalagi masyarakat masih mengingat kejadian tsunami Selat Sunda pada 2018.

BNPB juga meminta masyarakat di kawasan pesisir Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan tidak panik. Pemerintah menegaskan bahwa berdasarkan evaluasi PVMBG, pertumbuhan tubuh Anak Krakatau setelah erupsi 2018 masih relatif kecil sehingga tidak berpotensi mengalami keruntuhan masif yang dapat memicu tsunami.

Jadi, erupsi Anak Krakatau bukan berarti otomatis akan terjadi tsunami. Masyarakat sebaiknya tidak langsung percaya pada informasi yang beredar di media sosial, terutama kabar yang belum mendapatkan konfirmasi dari lembaga resmi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist